Fitur berikutnya adalah layanan Tanya Haji berbasis artificial intelligence (AI). Fitur ini menargetkan generasi milenial dan Gen Z yang saat ini menyumbang 25 persen dari total jemaah pendaftar. Harry mengatakan fitur tersebut dikembangkan untuk membantu jemaah memperoleh informasi seputar kebutuhan haji.

Melalui layanan berbasis AI tersebut, jemaah nantinya dapat memperoleh informasi mengenai berbagai hal, mulai dari perencanaan keuangan hingga kebutuhan selama berada di Tanah Suci.

"Yang kita berikan agar jemaah haji tahu cara perencanaan keuangan, kalau nyasar tahu cari hotel, kalau daftar haji syaratnya apa saja jadi tahu, semua bisa kita lakukan," kata Harry.

Dengan pengembangan tersebut, BPKH ingin menjadikan aplikasi sebagai pendamping digital yang dapat digunakan jemaah untuk berbagai kebutuhan terkait haji.

BPKH juga mencatat penggunaan aplikasi yang tidak hanya berasal dari Indonesia. Menurut Harry, BPKH Apps saat ini telah diakses masyarakat dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Taiwan.

Meski demikian, pengguna dari Indonesia masih menjadi yang paling banyak mengakses aplikasi tersebut.

"Jadi memang menjadikan seamless, borderless, bahkan saat ini diakses BPKH Apps ini diakses dari Malaysia, dari Amerika Serikat, dari Hong Kong, Taiwan, termasuk tentu paling banyak dari Indonesia," ujarnya.

Harry mengatakan BPKH belum memiliki data lebih rinci mengenai persebaran pengguna berdasarkan pulau di Indonesia.