Ia menjelaskan konsultan asal India pernah melakukan studi pada 2001 untuk menghitung kebutuhan investasi pengembangan Pelabuhan Sabang sebagai pusat alih muat regional yang dapat mendukung kegiatan perdagangan India.
Studi yang rampung pada 2003 tersebut memperkirakan kebutuhan investasi mencapai 104 juta dolar AS.
Dalam kajian itu, India menawarkan skema pembiayaan dengan porsi investasi pemerintah India sebesar 80–85 persen, sedangkan Indonesia diharapkan menyediakan 15–20 persen.
"Sampai sekarang pusat logistik itu belum terwujud. Kami masih mengusulkan kepada pemerintah agar pelabuhan yang sudah dibangun dengan fasilitas memadai itu memiliki kejelasan arah pemanfaatan melalui agenda nasional," kata Iskandar.
Selain sebagai pusat alih muat, BPKS melihat potensi Pelabuhan Sabang untuk dikembangkan sebagai pangkalan logistik bagi kegiatan minyak dan gas bumi di wilayah South Andaman.