Secara historis, Sumur Singkil-1 yang dibor pada 1973 pernah mencatat aliran gas sebesar 10,06 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day / MMSCFD). Sementara itu, Sumur Meulaboh-1 yang dibor pada 1970 mencatat aliran gas sebesar 6,7 MMSCFD.

Data tersebut menjadi salah satu referensi dalam mengevaluasi potensi kedua struktur. Tetapi, potensi pengembangannya masih memerlukan kajian teknis lanjutan untuk memastikan besaran sumber daya yang dapat diproduksikan, karakteristik reservoir, serta kelayakan komersialnya.

Dengan demikian, percepatan evaluasi potensi dan persiapan pengembangan perlu berjalan seiring dengan pemenuhan kewajiban eksplorasi. Sehingga seluruh tahapan kegiatan hulu migas berlangsung terarah, terukur, dan sesuai dengan ketentuan berlaku.

"BPMA berkomitmen untuk terus mengawal proses evaluasi dan persiapan pengembangan potensi migas di Aceh, termasuk struktur Meulaboh dan Singkil. Ini membuka peluang peningkatan pasokan gas, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional," demikian Mawardi Nur.

Sebagai informasi, adapun luas wilayah kerja OSWA sebesar 8.200 km2 dan ONWA seluas area 9.200 km2 dengan risiko geologi rata-rata moderate to high risk, khususnya di migration dan keberadaan source rock.

Komitmen dengan perusahaan tersebut sampai tiga tahun pertama dengan total nilai investasi 30 juta dolar AS atau setara Rp470,4 miliar. Jumlah total investasi komitmen pasti dari dua wilayah kerja sebesar 30 juta dolar AS dan bonus tanda tangan sebesar 100 ribu dolar AS.