NADIKABAR.COM β€” Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mendorong Camino de Flores menjadi salah satu ikon wisata religi di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena memadukan perjalanan spiritual, kekayaan budaya, keindahan alam dan kepedulian sosial terhadap masyarakat Flores.

Pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung mengatakan Camino de Flores di Labuan Bajo, Kamis, menunjukkan bahwa perjalanan wisata tidak hanya menawarkan pengalaman rekreasi, tetapi juga membuka ruang interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat serta memperkuat pelestarian warisan budaya lokal.

β€œCamino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi,” katanya.

Rangkaian perjalanan ziarah Camino de Flores Etape Tengah yang melintasi Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende tersebut resmi berakhir pada Senin (26/10), setelah para peserta menuntaskan perjalanan dengan jalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer.

Pada hari terakhir, peserta menempuh perjalanan menuju Puncak Danau Kelimutu dan melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Waturaka, Kabupaten Ende, dengan jarak sekitar 13 kilometer.

Perjalanan lintas wilayah tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengenal kehidupan lokal, serta menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Flores.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende. Situs bersejarah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan pengasingan Presiden pertama RI Soekarno di Ende pada 1934–1938, ketika ia membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan para biarawan.

Kegiatan ditutup dengan Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden di Gereja Katedral Kristus Raja, Ende, kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan malam bersama di Rumah Kevikepan Ende.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga mengapresiasi penyelenggaraan Camino de Flores yang dinilai berpotensi menjadi salah satu kekhasan pariwisata religi di daerah itu.

Ia mengatakan kegiatan tersebut sebelumnya telah diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan pengembangan wisata religi di Indonesia.

β€œBeberapa waktu lalu, kegiatan ini diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan untuk pengembangan wisata religi di Tanah Air. Kami berharap Camino de Flores dapat terus diselenggarakan dan berkembang menjadi salah satu kekhasan pariwisata Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores,” ujarnya.

Melkiades berharap keberlanjutan kegiatan tersebut dapat didukung melalui kolaborasi pemerintah, gereja, pelaku pariwisata, dan berbagai pihak terkait. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang juga menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi Flores sekaligus membangun jejaring yang bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Sementara itu Menteri Pariwisata periode 2011-2014 Mari Elka Pangestu menyampaikan rasa syukur karena dapat menuntaskan perjalanan berjalan kaki sejauh sekitar 70 kilometer dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-70.

Menurut dia, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang mencapai jarak yang telah ditetapkan, melainkan juga tentang keteguhan, kebersamaan dan upaya menggalang dukungan bagi masyarakat Flores, termasuk dalam pemulihan pascagempa.

β€œYang penting bukan siapa yang paling cepat menyelesaikannya, tetapi bahwa kita bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan tekad kita. Perjalanan ini juga bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menggalang dukungan bagi Flores, termasuk dalam upaya pemulihan pascagempa,” katanya.

Ia mengatakan kesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan warga di sepanjang rute menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama perjalanan. Sambutan hangat masyarakat, termasuk petani dan anak-anak, menunjukkan keramahan dan semangat hidup masyarakat Flores.