NADIKABAR.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggelar forum The Initiation of Global Cosmetic Regulatory Network guna membangun kerja sama regulatori di tingkat global sekaligus mendukung ekosistem industri kosmetik yang inovatif, aman, berkelanjutan, dan berdaya saing.

“Setiap negara memiliki cosmetic regulatory framework yang berbeda, namun menghadapi tantangan yang serupa. Perbedaan ini menjadi peluang dalam membangun kerja sama internasional untuk saling belajar, berbagi pengalaman, memperkuat kapasitas, dan membangun solusi bersama,” ujar Kepala BPOM, Taruna Ikrar di Jakarta, Senin.

Menurut Taruna, perkembangan industri kosmetik perlu diiringi dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Sinergi academia-business-government (ABG) menjadi salah satu pendekatan untuk mempertemukan hasil riset dengan kebutuhan industri sekaligus memastikan inovasi dapat dikembangkan sesuai persyaratan regulatori.

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut diwujudkan BPOM melalui Bersinergi dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar (Bridge). Melalui platform itu, pihaknya mempertemukan peneliti dengan mitra industri untuk mendorong hilirisasi hasil penelitian, termasuk di sektor kosmetik. Hingga saat ini, sebanyak 13 proposal penelitian produk kosmetik telah diajukan melalui platform Bridge.

“Bridge merupakan salah satu inovasi BPOM untuk menghubungkan peneliti secara langsung dengan industri. Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian diharapkan dapat lebih cepat didorong menuju tahap hilirisasi dan pengembangan produk,” kata Taruna.

Sementara itu, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), I Ketut Adnyana menekankan pentingnya orkestrasi riset yang melibatkan berbagai pihak, termasuk industri, dalam menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang pengembangan sektor kosmetik.

“Pada momentum penting ini, kami mengajak industri untuk ikut ambil bagian dalam riset dan pengembangan di sektor masing-masing. Kami berharap sains, ekologi, dan inovasi dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Indonesia,” ujar I Ketut Adnyana.

President of SICS, Sutriyo menyebut pentingnya keterhubungan antara sains dan regulasi dalam mendorong inovasi kosmetik. Menurutnya, pengembangan inovasi perlu didukung bukti ilmiah dan kerangka regulasi yang mampu mengelola risiko sekaligus merespons perkembangan teknologi.

“Sains dan regulasi bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya merupakan dua tangan dari tubuh yang sama. Sains tanpa regulasi tidak akan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara optimal, sementara regulasi tanpa dukungan sains tidak akan mampu mengelola risiko sekaligus mendorong inovasi,” ungkap Sutriyo.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi BPOM bersama Society of Indonesian Cosmetic Scientists (SICS) dan Cosmobeauté Indonesia. Forum IGCRN mempertemukan sekitar 160 peserta yang terdiri atas regulator, pelaku industri, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan BPOM.

Delegasi regulator berasal dari Lao PDR Food and Drug Department, Ministry of Health, serta Ministry of Food and Drug Safety (MFDS) Republik Korea. Sementara itu, peserta industri dari luar negeri berasal dari Lao Phanthamit Group Company, Cosmetics Europe, dan perwakilan industri Swiss.

Melalui IGCRN, BPOM terus membuka ruang kolaborasi dengan regulator dan pemangku kepentingan global untuk memperkuat ekosistem industri kosmetik nasional yang sehat, transparan, dan berkelanjutan. Kolaborasi tersebut diharapkan turut mendukung peningkatan daya saing produk kosmetik Indonesia di pasar global serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.