"Kalau yang tadi TPK (Tingkat Penghunian Kamar) hotel bintang naik di bintang 5, itu juga menjadi cerminan bahwa walaupun tingkat kunjungannya meningkat hanya 0,94 persen tapi mungkin pengeluaran wisman selama di Bali itu lebih tinggi dibanding sebelumnya karena mereka menyasar sarana akomodasi yang dalam tanda kutip memiliki harga yang lebih tinggi," kata dia.
BPS Bali juga melihat aktivitas pariwisata dari perjalanan wisnus yang naik 4 persen ikut menompang pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,43 persen.
"Pertumbuhan yang relatif tinggi ini terjadi khususnya pada pengeluaran perumahan, penginapan, dan hotel, jadi bukan pengeluaran primer untuk makanan," ujar Agus Gede.
Tekanan pariwisata juga berdampak pada sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh paling rendah 1,20 persen akibat penurunan kinerja angkutan udara.
Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,74 persen, dengan PDRB ADHK mencapai Rp47,53 triliun dan ADHB Rp90,41 triliun, atau tumbuh 0,42 persen dibanding triwulan II (April, Mei, Juni) 2026.
BPS Bali memotret secara laju tahunan antar-triwulan di 2026, ekonomi Bali sebenarnya terus meningkat dari triwulan I sebesar 5,58 persen dan triwulan II sebesar 5,78 persen.
Dari 17 lapangan usaha, sebanyak sembilan sektor mengalami percepatan dan delapan melambat, dengan pertumbuhan tertinggi diraih pengadaan listrik dan gas 11,03 persen, jasa keuangan 9,00 persen, serta konstruksi 8,91 persen.