Tinggi pertumbuhan listrik didorong oleh peningkatan pemakaian listrik industri yang naik 16,79 persen, residensial 12,54 persen, serta segmen bisnis 10 hingga 17 persen.

Sektor konstruksi terdorong realisasi proyek pemerintah-swasta dan kenaikan penjualan semen 3 persen, sementara pertanian tumbuh 2,55 persen didorong produksi jagung, peternakan, dan perikanan meski tanaman padi tertekan kemarau.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi PDRB dengan porsi 51,44 persen.

Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 8,74 persen didorong PMTB non-bangunan serta kenaikan belanja modal APBN 110 persen dan APBD 35 persen.

Agus Gede juga menyebut konsumsi pemerintah melesat 6,33 persen didorong belanja pegawai APBN 18,83 persen termasuk penyerapan P3K serta belanja barang jasa APBD 11,96 persen.

Daya beli masyarakat Bali juga diyakini tetap terjaga mengacu pada Indeks Penjualan Eceran Riil dan Indeks Keyakinan Konsumen, didukung penyaluran kredit bank yang tumbuh 7,5 persen dan surplus neraca perdagangan sebesar 97,62 juta dolar AS.