NADIKABAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Oktober 2026, dengan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama.
Sementara inflasi Sumsel secara tahun kalender (year to date/ytd) hingga Oktober 2026 mencapai 2,34 persen, sedangkan inflasi secara tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 2,87 persen.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto di Palembang, Senin, mengatakan, inflasi 0,44 persen tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,28 persen dengan andil 0,41 persen.
"Memang harga beras mengalami kenaikan, kemudian komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah juga mengalami kenaikan akibat gagal panen dan faktor cuaca," katanya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga beras dipengaruhi meningkatnya harga pembelian pemerintah (HPP) serta persaingan pasokan antardaerah. Meskipun Sumsel merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional, sebagian hasil produksinya juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan provinsi lain.
Kondisi tersebut menyebabkan persaingan mendapatkan pasokan beras sehingga ketersediaan untuk kebutuhan lokal berkurang dan mendorong kenaikan harga.
Selain beras, kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura juga dipengaruhi faktor cuaca dan gagal panen yang berdampak terhadap pasokan di pasar.