BPS mencatat lima komoditas utama penyumbang inflasi bulanan Sumsel periode Oktober 2026, yaitu cabai merah, cabai rawit, beras, tomat, dan sawi putih.
Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Disusul kelompok transportasi yang mengalami inflasi 0,26 persen dengan andil 0,03 persen serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen dengan andil 0,02 persen.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dengan andil minus 0,01 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi 0,30 persen dengan andil minus 0,02 persen.
BPS juga mencatat inflasi Sumsel secara tahun kalender (year to date/ytd) hingga Oktober 2026 mencapai 2,34 persen, sedangkan inflasi secara tahunan (year on year/yoy) tercatat sebesar 2,87 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran secara tahunan, makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,52 persen dengan andil 1,40 persen. Selanjutnya, kelompok transportasi mengalami inflasi 3,86 persen dengan andil 0,50 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,52 persen dengan andil 0,31 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 2,08 persen dengan andil 0,18 persen, sedangkan kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,76 persen dengan andil 0,14 persen.