NADIKABAR.COM — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terpantau pada Selasa (8/9/2026) hari ini. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada pukul 11.34 WIB.
Sejak erupsi terjadi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut melakukan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pengawasan BRIN secara khusus dilakukan lewat sistem monitoring potensi tsunami.
"Jadi BRIN memiliki peran dalam memantau tsunami. Jadi kami melakukan pemantauan selama, setelah kejadian kami memantau 24 jam sampai hari ini," kata Kepala BRIN, Arif Satria kepada wartawan di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat pada Selasa (8/9/2026).
Periset dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di bawah Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, Semeidi menjelaskan alat yang dilakukan untuk pemantauan ini adalah sistem monitoring IDSL/PUMMA.
"Keberadaan IDSL/PUMMA sangat dekat dengan sumber potensi tsunami, sehingga bisa cepat mendeteksi. Keberadaannya juga menjembatani PVMBG dan BMKG dalam monitoring dan peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda," ujar Semeidi dikutip dari laman BRIN.
Sistem ini diklaim lebih baik dibandingkan sistem yang dipakai pada 2018 lalu. Kini, sistem sudah didukung penuh jaringan seluler GSM Telkomsel ditambah dengan peran Satelit Telekomunikasi di sekitar Krakatau.
"Sehingga masyarakat atau nelayan bisa melaporkan langsung kondisi di sana," Semeidi.
Berdasarkan hasil pemantauan, Arif memastikan tidak ada potensi tsunami sejauh ini. Ia mengklaim alat yang digunakan BRIN dalam memantau berfungsi dengan baik.
"Kami menyimpulkan memang tidak ada potensi tsunami kok. Jadi alat yang sudah dimiliki oleh BRIN ini alhamdulillah terus berfungsi dan kemudian terus kita pantau secara 24 jam," tuturnya.
Begitu juga ditambahkan oleh Semeidi, sejauh ini belum ada anomali yang menunjukkan potensi tsunami. Ia meminta masyarakat agar tetap tenang dan terus memantau informasi dari badan resmi terkait.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi, apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi," ucapnya.