NADIKABAR.COM — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan kajian dan riset mendalam untuk penentuan lokasi serta teknologi yang tepat dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Timur terus berjalan secara intensif.
Kepala BRIN Prof. Arif Satria di Balikpapan, Kaltim, Sabtu, mengatakan kehadiran PLTN di masa depan sudah menjadi sebuah keniscayaan seiring pesatnya kebutuhan energi industri dan transisi hijau.
"PLTN itu sudah menjadi keniscayaan. BRIN terus melakukan riset untuk jenis tenaga yang tepat, kemudian wilayah mana yang paling tepat untuk dikembangkan PLTN," ujar Arif.
Menurut dia, percepatan riset energi tersebut berjalan beriringan dengan penyiapan ekosistem digital dan penguasaan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di perguruan tinggi daerah.
Dalam dokumen riset penataan energi nasional, terdapat sedikitnya tiga kawasan potensial di Kaltim yang masuk dalam radar kajian tapak reaktor.
Ketiga wilayah tersebut meliputi kawasan pesisir Sangatta di Kabupaten Kutai Timur, Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara, serta Babulu di Kabupaten Penajam Paser Utara.
Wilayah-wilayah ini dipilih karena memiliki ketersediaan pasokan air pendingin yang melimpah dari laut serta kestabilan struktur geologi yang relatif aman dari ancaman gempa bumi besar.
Berdasarkan data pemetaan strategis nasional, wilayah Kaltim dinilai memiliki keunggulan geologis berupa struktur batuan yang relatif stabil dari ancaman gempa bumi besar dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Oleh karena itu, kajian teknis tidak hanya berfokus pada aspek keselamatan reaktor semata, tetapi juga mencakup kalkulasi daya dukung lingkungan serta jarak aman dari pusat populasi penduduk.
"Kami ingin memastikan seluruh tahapan kajian ini dilakukan secara transparan, akurat, dan melibatkan perguruan tinggi lokal agar kesiapan teknologi serta sumber daya manusia dapat berjalan seiring," kata Arif.
Wacana pemanfaatan energi nuklir di Kaltim telah dirintis sejak era kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak pada periode 2008-2018. PLTN dianggap sebagai solusi pemenuhan kebutuhan ribuan megawatt listrik untuk Kaltim, baik bagi rumah tangga maupun industri.
Gagasan strategis tersebut sempat berlanjut pada masa pemerintahan Gubernur Isran Noor. Saat itu, koordinasi teknis bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus bergulir untuk memetakan kelayakan wilayah dan aspek keselamatan jangka panjang.