Fadli juga menjelaskan bahwa nilai industri kreatif global mencapai USD 4,3 triliun per tahun, Indonesia berpotensi besar mentransformasikan modal budayanya melalui ekosistem Circular Cultural Economy di tingkat internasional. Pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri mempunyai peran sangat besar dalam memperkenalkan dan mendorong budaya Nusantara sebagai motor penggerak ekonomi.

"Inventarisasi, riset, dan pelindungan harus menjadi dasar untuk mengubah kekayaan budaya menjadi kapasitas produktif. Artinya, ruang untuk mengubah kekayaan budaya menjadi cultural influence memiliki potensi yang sangat besar. Kita perlu membangun ekosistem Circular Cultural Economy yang menghubungkan aset budaya, kreativitas, kekayaan intelektual, produksi, pembiayaan, distribusi, hingga pasar untuk memberikan pengaruh," lanjut Fadli.

Menutup sambutannya, Fadli berharap Simposium Internasional ke-18 PPI Dunia ini dapat menghasilkan gagasan dan kolaborasi yang berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat kontribusi pelajar Indonesia bagi masa depan bangsa di tingkat dunia.