Kegiatan ini didukung Badan Geologi, tenaga kesehatan, Rumah Sakit Dharmais, PT Bio Farma, serta Yayasan Kanker Payudara Indonesia.
Menurut Sri Suparni, perhatian terhadap kesehatan dapat dibangun dari lingkungan terdekat. Kesibukan, rasa takut, ataupun malu diharapkan tidak membuat perempuan mengabaikan kesempatan untuk menjalani pemeriksaan.
“Jangan menunda pemeriksaan, jangan menunggu sakit dulu baru kita ke rumah sakit. Jangan biarkan rasa takut, malu, atau kesibukan menghalangi kita untuk menjaga kesehatan. Merawat diri adalah bagian dari cara kita merawat keluarga,” tegasnya.
Sri Suparni mengingatkan bahwa vaksinasi HPV bukan akhir dari upaya pencegahan kanker serviks. Pemeriksaan berkala tetap perlu dilakukan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Pesan tersebut sejalan dengan pendekatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menempatkan vaksinasi HPV serta skrining dan penanganan lesi prakanker sebagai bagian yang saling melengkapi dalam pencegahan kanker serviks. Vaksinasi membantu menurunkan risiko, sedangkan skrining bertujuan menemukan perubahan pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker.
Ia juga mengajak peserta menjadi penggerak kesehatan di keluarga dan lingkungannya. Peran itu dapat dilakukan dengan membagikan informasi yang benar, mengajak perempuan lain lebih peduli terhadap kesehatan, serta mendorong anak perempuan mengikuti imunisasi HPV sesuai program pemerintah.