Untuk mengetahui pola tidur alami manusia, para peneliti kemudian mengamati sejumlah komunitas pemburu-pengumpul. Ulasan tersebut merujuk pada penelitian yang dimuat dalam jurnal Current Biology, yang menemukan bahwa masyarakat di Tanzania dan Bolivia rata-rata tidur sekitar 5,7 hingga 7,1 jam setiap malam.
Durasi tidur yang relatif singkat tersebut tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh faktor kehidupan modern, seperti suara kendaraan, penggunaan media sosial, maupun paparan cahaya buatan pada malam hari.
Durasi tidur masyarakat praindustri juga diketahui berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh metode pengukuran tidur, lokasi tempat tinggal, perubahan musim, serta berbagai kondisi lingkungan. Bahkan, sebuah analisis yang diterbitkan pada Februari 2025 memperkirakan rata-rata durasi tidur mereka sekitar 6,4 jam.
Sementara itu, industrialisasi, elektrifikasi, dan urbanisasi turut membawa perubahan besar terhadap waktu, durasi, serta keteraturan tidur manusia. Salah satu perubahan penting terjadi akibat terganggunya siklus alami terang dan gelap yang sebelumnya menjadi salah satu penentu utama pola tidur.
Dalam kehidupan modern, paparan cahaya buatan serta aktivitas pekerjaan pada malam hari dapat membuat ritme sirkadian tidak selaras secara terus-menerus. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan fisik dan mental.