Pertama, selama jalur regulasi CP terpisah, maka kesenjangan akses kemungkinan akan terus muncul di berbagai titik, bukan hanya terkait CP. Ia menilai, unifikasi akses idealnya memang tanggung jawab yang lebih besar dari sekadar satu guru yang kebetulan bisa "ngoding" sedikit.

"Kedua, sambil menunggu itu, guru hari ini sebenarnya punya opsi yang dulu tidak ada: alat untuk membangun solusinya sendiri jauh lebih terjangkau dibanding lima atau sepuluh tahun lalu," ungkapnya.

"Saya bukan orang dengan keahlian teknis istimewa, dan proses membangun Cepein pun jauh dari mulus, penuh coba-coba dan berkali-kali mentok karena keterbatasan alat yang saya pakai. Tapi kesenjangan yang saya alami cukup nyata untuk dijadikan alasan mencoba menutupnya sendiri, alih-alih menunggu," sambungnya,

Ia masih akan terus mengembangkan Cepein. Dari pengalamannya ini, menurutnya kesenjangan struktural sekecil apa pun titiknya jika dibiarkan, akan terus dibayar oleh waktu dan energi guru di lapangan.

"Dan selama menunggu perbaikan yang lebih besar, guru tidak harus diam saja menghadapinya," pungkasnya.