Hasilnya, 96,9 persen guru setuju dan sangat setuju bahwa bermain dapat mendukung pembelajaran akademis anak. Para guru juga mendukung adanya waktu bermain yang terjadwal bagi anak, sementara 17,2 persen lainnya menilai bahwa bermain utamanya merupakan hiburan atau kesenangan.
"Dari luar, mungkin hanya terlihat seperti anak-anak sedang bermain, tetapi ketika Anda benar-benar berbicara dengan para guru, itu sangat terencana dan ada tujuan pembelajaran yang jelas di baliknya," kata Kelly M. Purtell, profesor madya ilmu humaniora di Ohio State University sekaligus salah satu penulis studi.
Meski demikian, para guru umumnya merasa bahwa kurikulum yang diwajibkan memberi mereka ruang untuk berkreasi. Dalam hal ini, guru yang lebih berpengalaman cenderung tidak menekankan pembelajaran yang terstruktur dan lebih memilih pembelajaran yang berpusat pada anak.
Menurut studi tersebut, guru di perkotaan merasa kurang mendapat dukungan keluarga untuk pembelajaran berbasis bermain. Meski begitu, penelitian tidak menanyakan pandangan keluarga tentang hal ini.
Walaupun studi ini memiliki keterbatasan salah satunya adalah tidak mengukur pandangan orang tua anak-anak, Purtell mengungkapkan persepsi guru dapat mencerminkan komentar orang tua, harapan sekolah, tekanan persiapan, atau kesenjangan komunikasi.