NADIKABAR.COM — Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Ahmad Rizal Ramadhani mengatakan kenaikan harga beras yang memicu inflasi Jakarta pada September 2026 terjadi saat musim paceklik atau periode produksi padi menurun karena belum memasuki masa panen.
"Data yang kemarin sempat didiskusikan di evaluasi oleh Kementerian Dalam Negeri rapat inflasi memang mengalami kenaikan 0,01 persen. Jadi kenaikannya tidak terlalu signifikan. Namun kita ketahui bersama, saat ini adalah musim paceklik. Musim lagi tidak panen," kata Rizal di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Jumat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, harga beras rata-rata di DKI Jakarta pada September 2026 mencapai Rp16.596 per kilogram.
Kenaikan harga beras itu mendorong inflasi sebesar 0,62 persen dan memberikan andil 0,01 persen terhadap inflasi umum Jakarta secara bulanan.
Saat periode sebagian wilayah belum memasuki masa panen, kata Rizal, kenaikan harga masih memungkinkan terjadi.
Rizal menyebut Bulog bersama seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun pihak swasta, terus bersinergi untuk menjaga ketersediaan sekaligus stabilitas harga beras di seluruh wilayah Indonesia.
"Kami bersinergi semaksimal mungkin untuk menjaga dan menjamin ketersediaan beras tersebut. Termasuk juga menjamin stabilisasi harganya," ujar Rizal.
Di sisi lain, Bulog menyiapkan tambahan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk memperkuat pasokan di masyarakat.
Rizal menyebutkan cadangan beras nasional mencapai 4,8 juta ton di gudang yang dikelola Bulog. Dari stok tersebut, sebanyak satu juta ton akan disalurkan sebagai tambahan beras SPHP hingga Maret 2027.
Selain SPHP, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan beras sebanyak satu juta ton pada Oktober, November, dan Desember 2026 sesuai arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Menurut Rizal, penyaluran bantuan pangan turut memberikan dampak terhadap perkembangan harga beras di pasar.
Berdasarkan informasi dari penjual, kata Rizal, penyaluran bantuan pangan yang telah dilakukan sebelumnya pada Juli hingga September 2026 berkontribusi terhadap penurunan harga beras.
"Beliau langsung menyampaikan ke Bu Titiek, dengan adanya bantuan pangan mulai kemarin bulan Juli, Agustus, September, nanti ditambah dengan Oktober, November, Desember ini berdampak harga beras menjadi turun," jelas Rizal.
Rizal mengatakan perkembangan harga pada akhir September dan awal Oktober 2026 juga menunjukkan kecenderungan penurunan.
"Kurang lebih 500 rupiah per kilo. Dari biasa medium itu kemarin Rp14.000 sekarang Rp13.500. Untuk premium kemarin sudah sempat Rp15.000 turun ke Rp14.500. Cuma itu di tingkat distributor ya belum tingkat pengecer," kata Rizal.
Dia memperkirakan evaluasi inflasi yang dibahas sebelumnya masih mencerminkan kondisi harga pada periode sebelum Juli, sedangkan harga beras dalam dua pekan terakhir telah mengalami penurunan.
"Kalau yang di bulan ini, Alhamdulillah masuk di akhir September dan awal Oktober ini mengalami penurunan harga. Mudah-mudahan minggu depan sudah mengalami penurunan inflasi dari yang disampaikan tadi," ucap Rizal.
Lebih lanjut, Rizal berkomitmen pihaknya terus mendorong produksi dan penyaluran beras untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga.
Bulog akan terus menggenjot produksi beras premium untuk memenuhi kebutuhan pasar, sedangkan beras medium saat ini relatif aman karena stoknya cukup melimpah.
Rizal berharap tren penurunan harga yang terjadi sejak akhir September hingga awal Oktober dapat terus berlanjut sehingga tekanan inflasi dari komoditas beras ikut mereda.