NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Senin (26/10). IHSG turun 1,22% ke posisi 5.373,09.

Di tengah pelemahan tersebut, saham TPIA naik 8,65%, BBNI menguat 1,46%, dan TLKM bertambah 0,45%. Sementara itu, BBCA turun 1,69%, BYAN terkoreksi 3,49%, dan MORA melemah 6,79%.

Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing yang membukukan jual bersih Rp2,03 triliun di pasar reguler dan Rp1,85 triliun di seluruh pasar. Seluruh 11 sektor saham berakhir melemah, dengan sektor infrastruktur mencatat penurunan terbesar sebesar 2,47%.

Kondisi berbeda terjadi di bursa Amerika Serikat. Dow Jones menguat 0,28% ke level 52.361, S&P 500 naik 0,70% ke level 7.676, sedangkan Nasdaq bertambah 0,83% ke posisi 26.169.

Di dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati langkah percepatan reformasi OJK sebagai respons terhadap evaluasi MSCI. Selain itu, rencana penghapusan 82 saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November berpotensi memberikan tekanan terhadap indeks dalam jangka pendek. Sejalan dengan kondisi tersebut, ETF EIDO tercatat turun 0,75% dan MSCI Indonesia melemah 0,42%.

MBSS mendapatkan kontrak jasa pengangkutan batu bara senilai Rp6 triliun dari Global Energi Lestari (GEL Group). Kesepakatan yang berlaku selama lima tahun ini mencakup volume pengangkutan 30 juta ton batu bara atau sekitar 6 juta ton per tahun.

Dari kontrak tersebut, MBSS berpotensi memperoleh pendapatan rata-rata Rp1,2 triliun per tahun. Pengangkutan batu bara akan melayani pasar domestik dan ekspor dengan titik muat yang mencakup wilayah Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Dalam menjalankan kontrak, perseroan akan menggunakan armada tug and barge serta kapal kelas Handymax hingga Supramax. Operasionalnya juga didukung fasilitas transshipment dengan floating crane.

Kontrak jangka panjang ini memberikan kepastian volume pengangkutan bagi MBSS untuk mengoptimalkan pemanfaatan armada. Perseroan juga menyiapkan ekspansi armada secara bertahap pada 2027 untuk mendukung kebutuhan operasional.

BREN mencatatkan peningkatan kapasitas terpasang panas bumi menjadi 935,55 MW. Capaian ini diraih setelah perseroan menyelesaikan retrofit PLTP Darajat Unit 3 di Garut, Jawa Barat, melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal Darajat II.

Proyek tersebut menambah kapasitas pembangkit Unit 3 sebesar 8,55 MW, dari sebelumnya menjadi 130,55 MW. Dengan demikian, total kapasitas kompleks PLTP Darajat kini mencapai 280,55 MW.

BREN semakin dekat dengan target kapasitas panas bumi sebesar 1 GW pada akhir 2026. Perseroan juga terus mengoptimalkan fasilitas pembangkit yang telah beroperasi untuk meningkatkan efisiensi dan menjaga keandalan pasokan listrik berbasis energi bersih.

Tak hanya itu, BREN bersama Mitsubishi Power Indonesia tengah menjajaki kerja sama teknis untuk meningkatkan performa turbin serta keandalan dan ketersediaan PLTP Darajat Unit 2 dan Unit 3.

BUMI menyelesaikan pengambilalihan Mount Margaret Mining Pty Ltd, perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Australia, pada 23 Oktober 2026. Aksi korporasi ini dilakukan melalui anak usaha yang dimiliki sepenuhnya oleh BUMI, yakni Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA).

Dalam transaksi tersebut, BRA mengakuisisi dua lembar saham yang mencakup seluruh saham yang telah diterbitkan Mount Margaret Mining. Nilai transaksi tercatat sebesar US$22,01 juta.

Setelah transaksi rampung, BUMI secara tidak langsung memiliki 100% saham Mount Margaret Mining. Penyelesaian akuisisi ini menandai bertambahnya kepemilikan perseroan atas perusahaan asal Australia tersebut.

AADI - Buy 11400-11500 | TP 11700-11800 | SL 10900

JSMR - Buy 2660-2690 | TP 2740-2760 | SL 2560

TMPO - Buy 186-188 | TP 193-195 | SL 174

TOTL - Buy 1410-1420 | TP 1440-1460 | SL 1350

SSMS - Buy 910-925 | TP 945-965 | SL 875

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.