Sedangkan kepala sekolah, lanjut Kholid, untuk sementara ditarik ke kantor Dindikbud Kabupaten Pekalongan.
Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu rekomendasi sanksi dari tim yang melakukan pemeriksaan.
"Ya, nantinya sembari menunggu rekom (sanksi), otomatis kami mutasi dulu," ujarnya.
Menurut Kholid, pemindahan keduanya merupakan langkah sementara untuk meredam gejolak di masyarakat setelah kasus tersebut menjadi perhatian warga.
"Supaya gejolak di masyarakat tidak meluas. Sembari menunggu dokumen administrasi yang bakal dilaksanakan bareng-bareng," kata dia.
Warga rupaya kecewa dengan langkah Dinas Pendidikan yang dinilai lembek itu. Warga kemudian menggeruduk kantor bupati.
Puluhan warga Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, mendatangi Kantor Bupati Pekalongan, Jumat (11/09/2026). Mereka menuntut Pemkab Pekalongan memberikan sanksi tegas terhadap dua tenaga pendidik berinisial DA dan EH yang diduga terlibat perbuatan asusila di lingkungan SDN 2 Langkap.
Warga menolak jika penanganan kasus tersebut hanya berujung pada mutasi. Mereka mendesak kedua oknum tersebut diberhentikan secara tidak hormat apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran berat.
Koordinator aksi, Muhamad Hadi Yusuf, mengatakan kedatangan warga merupakan bentuk desakan agar pemerintah daerah tidak memberikan toleransi apabila dugaan pelanggaran tersebut terbukti.
"Kami mendesak pelaku asusila untuk di-PTDH. Pecat dengan tidak hormat, pecat dari ASN. Karena kalau tidak dipecat, masih menjabat, masih sebagai PNS atau ASN, masih mendapatkan tunjangan. Justru itu akan mencoreng pemerintah kita, mencoreng Kabupaten Pekalongan," kata Hadi.
Menurut Hadi, persoalan tersebut bukan sekadar masalah pribadi. Sebab, dugaan peristiwa itu disebut terjadi di lingkungan sekolah yang merupakan tempat pendidikan dan pembentukan karakter anak.
"Menurut kami pemerintah daerah kurang tegas. Padahal itu kan asusila, dilakukan di sekolah. Bahkan Plt sudah menyampaikan, Pak Sekda juga sudah tahu. Terus kenapa sampai lama? Ini menjadi pertanyaan," ujarnya.
Hadi mengungkapkan, sebagian warga disebut telah mengetahui adanya hubungan tim redaksi kedua tenaga pendidik tersebut sebelum video berdurasi sekitar 21 detik itu menjadi viral.
"Pelaku mesum di lingkungan sekolah, ini kejadian sudah lama satu tahun yang lalu. Baru ada bukti Agustus kemarin," ungkapnya.