Petunjuk teknis (Juknis) baru diterbitkan pada April 2026 sehingga ruang pergeseran dan penyesuaian anggaran sangat terbatas. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pembengkakan kebutuhan pokok hingga hampir tiga kali lipat dari alokasi awal di DPA yang senilai Rp391.051.600 untuk tingkat provinsi. Berdasarkan perhitungan riil, kebutuhan anggaran melonjak hingga mencapai Rp620.192.000, sehingga terdapat selisih (defisit) sekitar Rp229.140.400 pada beberapa komponen utama seperti angkutan, konsumsi, dan seragam.
Terkait penggunaan mikrobus engkel yang menjadi sorotan, pihak Disdikpora menyebut keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan efisiensi anggaran dan fleksibilitas mobilitas. Terlebih, lokasi pertandingan tersebar di 14 venue.
Penggunaan mikrobus dinilai lebih lincah untuk mobilisasi harian di Semarang, serta meninjau aspek historis mobilitas kontingen pada tahun-tahun sebelumnya. Kendati demikian, pihak dinas menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan yang terjadi dalam perencanaan mitigasi risiko di lapangan.
Pegiat olehraga sekaligus Ketua Perbati, Sujud Sugiarto, menyampaikan kritik dan masukan konstruktif kepada Pemkab Kebumen dan Disdikpora. Ia menekankan bahwa para atlet berjuang membawa nama baik daerah sehingga aspek kenyamanan dan kesejahteraan seharusnya mendapat perhatian utama dari para pengampu anggaran.
"Ini atlet untuk membawa nama baik Kebumen. Yang mengelola anggaran mestinya melihat perubahan atau dinamika di lapangan. Karena ini evaluasi, maka tahun depan jangan terjadi lagi," ujar Sujud dalam keterangan tertulis, Jumat (4/9/2026).
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Bupati Kebumen Lilies Nuryani menyampaikan rasa prihatin dan menegaskan bahwa persoalan ini tidak terlepas dari kendala komunikasi tim redaksi perangkat daerah dan pimpinan. Lilies mengaku tidak menerima undangan resmi saat proses pelepasan kontingen, sehingga koordinasi terkait kelayakan fasilitas tidak dapat ditangani lebih awal.