NADIKABAR.COM — Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp 13.000 triliun pada periode 2025-2029 untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% pada 2029. Kebutuhan investasi ini membuka peluang bagi pengusaha nasional untuk terlibat dalam kemitraan dengan investor internasional, salah satunya China.

Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, Noor Sona Maesana Mushonnif, menekankan pentingnya memperkuat kemitraan Indonesia dan China untuk mendukung percepatan transformasi ekonomi, hilirisasi, serta peningkatan kapasitas pengusaha nasional.

"Indonesia dan China memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan yang saling menguatkan. Kerja sama ini perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri nasional, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk tumbuh bersama," ujar Sona dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, hubungan ekonomi Indonesia dan China telah berkembang melalui kerja sama di berbagai sektor, termasuk pengolahan mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan manufaktur. Nilai investasi kumulatif China di Indonesia pada periode 2021-2025 tercatat mencapai sekitar US$ 34,44 miliar.

Kerja sama kedua negara dinilai berpotensi untuk diperluas ke sektor energi terbarukan, ekonomi digital, kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi perkebunan, perikanan, dan kelautan. Pengembangan sektor-sektor tersebut perlu disertai upaya memperkuat keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai pasok industri.

Dalam bidang tugasnya, Sona menegaskan bahwa percepatan hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pengusaha nasional. Keduanya merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem usaha yang kuat dan memastikan manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh pelaku ekonomi domestik.

"Saya ingin menekankan pentingnya membuka akses bagi pengusaha nasional dan UMKM untuk menjadi pemasok industri. Peluang tersebut dapat dimulai dari kebutuhan barang, jasa pemeliharaan, logistik, hingga komponen produksi. Perusahaan besar perlu menjelaskan standar yang dibutuhkan, sementara pemasok lokal perlu didampingi agar mampu memenuhinya," jelasnya.

Menurut Sona, kemitraan industri yang berkelanjutan membutuhkan hubungan bisnis yang jelas, peningkatan kualitas pemasok lokal, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, investasi tidak hanya menghadirkan modal dan teknologi, tetapi juga membantu memperkuat kemampuan industri dan pelaku usaha nasional.

Ia juga menekankan bahwa penguatan hubungan Indonesia dan China perlu dibangun di atas prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama. Kolaborasi kedua negara diharapkan tidak berhenti pada realisasi investasi, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Hubungan Indonesia dan China memiliki ruang besar untuk terus diperkuat. Dengan menghubungkan investasi, teknologi, kebutuhan industri, dan kapasitas pengusaha nasional, kita ingin memastikan bahwa kemitraan ini memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia," tutup Sona.