NADIKABAR.COM — Gejolak pasar modal pada pasar ekuitas suatu negara selalu menguji dua hal sekaligus, yakni ketahanan fundamental ekonomi dan kepercayaan investor terhadap masa depan sebuah negara.

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun menembus level 5.000 pada Oktober 2026, persoalannya melampaui fluktuasi harga saham harian. Peristiwa itu menjadi ujian bagi keyakinan publik terhadap prospek ekonomi Indonesia sekaligus momentum untuk memperkuat tata kelola pasar modal agar lebih transparan, kredibel, dan mampu menopang pertumbuhan nasional.

Dalam konteks ini, seruan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad untuk menggalakkan "Buy Indonesia" relevan. Ajakan tersebut penting karena mengingatkan bahwa perekonomian nasional tidak hanya dinilai dari pergerakan indeks harian atau sentimen investor global.

Indonesia memiliki pasar domestik, kapasitas produksi, pelaku usaha, dan basis investor dalam negeri yang dapat menjadi penyangga saat sentimen eksternal memburuk.

Namun menyerukan "Buy Indonesia" bukan berarti mengabaikan masalah yang ada. Kepercayaan tidak dibangun hanya lewat seruan membeli saham; optimisme tanpa pengelolaan risiko yang baik tidak cukup.

Dukungan terhadap ajakan itu harus diterjemahkan menjadi agenda konkret: menjaga kepercayaan, memperbaiki tata kelola pasar modal, dan memastikan investasi domestik bertumpu pada fundamental ekonomi yang kuat.

Tekanan pada IHSG ini juga tidak terlepas dari pengaruh dinamika penilaian internasional. Khususnya pada tanggal 15 Oktober 2026, ketika Morgan Stanley Capital Index (MSCI) mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

MSCI menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan belum konsistennya pelaksanaan reformasi pasar. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027. Artinya, Indonesia masih punya kesempatan untuk memperbaiki tata kelola dan membuktikan bahwa reformasi berjalan nyata.

Selanjutnya, Reuters melaporkan pada 20 Oktober 2026, IHSG sempat turun tajam selama dua hari sebelum kembali naik 5,3 persen. Pemulihan itu memberi ruang optimisme, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa kepercayaan investor pulih total. Pasar masih butuh bukti nyata soal transparansi, kepastian regulasi, dan perlindungan investor.