Pentingnya keandalan pasokan listrik tersebut, diamini oleh Founder sekaligus CEO usaha kerajinan ramah disabilitas seperti PUKA (Pulas Katumbiri), Dessy Nur Anisa Rahma.

Ia mengungkapkan bahwa dalam memproduksi sekitar 1.000 unit kerajinan tangan karya penyandang disabilitas setiap bulannya, operasional usaha mereka tidak terlepas dari dukungan kelistrikan untuk menggerakkan mesin produksi.

"Iya ada yang pakai listrik, tapi hanya 40 persen dari tiap produk. Barang yang dijahit seperti tas, pouch, lampu, dan lain-lain," kata Dessy di Bandung, Selasa (3/11), terkait besaran porsi proses pembuatan produk di PUKA yang bergantung pada mesin listrik.

Dessy mengakui bahwa ritme produksi di PUKA sempat mengalami kendala ketika wilayah Bandung mengalami pemadaman bergilir beberapa waktu lalu, sehingga pihaknya harus segera melakukan penyesuaian jadwal kerja.

"Iya sempat terkendala, tapi dari kami sudah antisipasi kerjakan lebih awal, ketika di jamnya pemadaman bergilir aktivitas kelistrikan sudah tidak ada," ucap Dessy.

Merespons krusialnya kebutuhan listrik bagi kelangsungan operasional pelaku usaha tersebut, Krisantus menekankan bahwa kecukupan pasokan semata memang belum cukup tanpa diimbangi dengan kualitas distribusi yang prima.