NADIKABAR.COM — Laporan terbaru Cambridge University Press & Assessment merumuskan delapan prinsip untuk mengintegrasikan AI secara efektif dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah
Singapura, (ANTARA/PRNewswire)- Pembuat kebijakan perlu melibatkan guru secara aktif dalam merumuskan kebijakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sekolah. Mereka juga perlu menyediakan program pengembangan profesional yang menyeluruh dan berkelanjutan agar guru mampu memanfaatkan AI secara efektif dalam pembelajaran sekaligus menggunakannya secara kritis. Rekomendasi tersebut tertuang dalam laporan terbaru Cambridge University Press & Assessment (Cambridge).
Guru dan peserta didik juga perlu dilibatkan sejak tahap perancangan, pengadaan, penerapan, hingga evaluasi perangkat AI generatif (GenAI). Keterlibatan ini berperan penting agar kebijakan yang disusun sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata di ruang kelas.
Laporan bertajuk "Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching" tersebut merangkum praktik terbaik dari para guru bahasa Inggris di berbagai negara yang lebih dahulu menggunakan GenAI, serta hasil penelitian Cambridge sebelumnya mengenai AI dan pemanfaatannya oleh guru. Laporan ini disusun untuk memberikan arah yang lebih jelas di tengah penerapan dan adopsi AI di dunia pendidikan yang selama ini kerap berjalan tanpa pendekatan terpadu.
Temuan laporan menunjukkan bahwa banyak guru di berbagai negara telah menggunakan AI, namun belum memiliki panduan yang jelas. Perhatian utama para guru tertuju pada upaya mempersiapkan siswa menghadapi era AI. Siswa perlu dibekali kemampuan untuk menilai hasil AI secara kritis, memeriksa kebenarannya, dan memanfaatkan GenAI untuk mendukung proses belajar, bukan sekadar mencari jalan pintas dalam mengerjakan tugas.
Untuk mendukung guru dan menjadi acuan bagi pembuat kebijakan, Cambridge mengajukan delapan prinsip utama dalam pemanfaatan AI di sekolah: