NADIKABAR.COM — Di sebuah rumah di Kelurahan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, terdapat rangkaian bunga bugenvil yang kini menjadi spot foto favorit muda-mudi yang sengaja datang ke sana. Pemilik rumah, Edi Harianto (78), justru senang karena banyak orang yang datang untuk foto dengan bunga yang dirawat selama tujuh tahun itu
Pantauan NadiKabar di Jalan Pleburan III, Sabtu (29/8) sore, tampak belasan remaja tengah mengantre untuk berswafoto berlatar bunga bugenvil itu. Ujung gang yang mulanya sepi, tetiba ramai.
Kebanyakan yang datang merupakan remaja perempuan. Namun ada juga remuda laki-laki yang tak ingin ketinggalan kesempatan untuk mengabadikan momen cantik berbunganya bugenvil itu.
Tanaman hias itu tumbuh rimbun di tengah teriknya matahari. Tampak bugenvil dirangkai sedemikian rupa sehingga memiliki tiga ruas.
Flora tersebut tidak hanya terdiri dari satu jenis. Pun warna bunganya mulai dari putih, merah, hingga kuning nyaris krem.
Di ruas pertama, bunga tidak begitu rimbun. Semakin ke atas, tampak bunga-bunga banyak menghiasi tembok rumah.
Beberapa kali Edi mengajak pengunjung untuk berswa foto. Dia juga menyapa mereka dengan ramah.
Di seberang jalan, terdapat sebuah alat sederhana yang disediakan Edi agar pengunjung bisa berswa foto tanpa menggunakan tongkat narsis (tongsis). Alat tersebut dibuat menggunakan kayu.
"Saya senang banyak yang ke sini. Ini saya buat biar anak-anak nggak sulit ambil foto," kata Edi saat ditemui di lokasi.
Seorang pengunjung bernama Valen (16) asal Semarang Utara rela menempuh perjalanan belasan menit ke spot tersebut untuk berswa foto. Dia mengaku mengetahui lokasi itu lantaran telah viral di media sosial.
"Tahunya dari medsos, viral," sebut Valen.
Berangkat dari rasa penasaran, Valen ingin melihat langsung bugenvil itu. Nyatanya, apa yang terpampang di media sosial sesuai dengan ekspektasinya.
"Iya, sama dengan yang di medsos. Bagus!" ungkapnya dengan nada riang.
Dia mengaku baru kali ini menemukan spot foto ciamik berhiaskan bugenvil. Biasanya dia pergi ke Jalan Madukoro, Semarang Barat, lokasi di mana pohon-pohon tabebuya bermekaran awal kemarau.
"Ini baru sih spot fotonya. Baru ke sini sekarang. Kalau biasanya kan di Madukoro itu," terangnya.
Edi menuturkan dirinya menanam bunga bugenvil sejak tujuh tahun lalu. Bermula dari hobinya merawat tanaman.
"Dari dulu saya suka tanaman hias sampai akhirnya ke bugenvil. Ini sudah saya tanam dan rawat sejak tujuh tahun lalu," ungkap kakek pensiunan ASN itu.
Mulanya dia menanam bunga lain. Namun tidak ada kembang yang bermekaran. Alhasil, Edi mencoba peruntungan lain melalui bugenvil.
"Sebetulnya dulu bukan bugenvil. Kok tidak berbunga. Saya ganti bugenvil," jelasnya dengan nada antusias.
Saat itu dia hanya menanam satu macam bugenvil. Dia pun memutuskan untuk menanam berbagai macam bugenvil sehingga menghasilkan beragam warna kembang.
Tak cukup menanam, Edi juga menata kembangnya sedemikian rupa hingga memiliki tiga ruas. Sudah tiga bulan bunganya bermekaran tahun ini.
"Kita kembangkan kita sambung dan jadi berapa warna. Akhirnya bugenvil itu masalahnya kalau panjang dia berbunga. Ini bagaimana bisa berbentuk (memiliki tiga ruas dengan jarak yang pendek), kita usahakan supaya bentuknya ada, tapi bunganya lebat," bebernya.
Saban hari gang di samping rumah Edi tidak pernah sepi sejak bugenvilnya bermekaran. Sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB hingga malam pengunjungnya berdatangan.
"Setiap hari seperti ini, ramai. Dari pagi itu sudah ada orang yang foto-foto di sini," ucapnya sembari tertawa ringan.
Dia pun tidak terganggu dengan banyaknya orang yang hendak berfoto. Malah, kesenangan pengujung juga menjadi penyemangatnya untuk merawat bugenvil.
"Bagi saya pribadi itu nggak masalah, dia menikmati bunga yang indah. Saya senang, tapi tetap jaga ketertiban," tuturnya.
Bunganya viral di media sosial bukan menjadi masalah bagi Edi. Dia pun tidak tahu kembangnya bisa ramai di jagat maya.
"Saya malah nggak tahu kalau viral, hahaha," kata Edi sembari tertawa.
Hal tersebut juga dibenarkan oleh Ketua RW sekitar, Win. Win menerangkan banyak orang yang datang untuk berfoto berlatar kembang milik tetangganya itu.
"Dari pagi sampai malam bahkan. Meskipun portal ditutup masih ada yang ke sini," kata Win.
Win tidak keberatan dengan banyak orang yang datang. Dia pun mengimbau agar pengunjung bisa menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan.
"Saya juga ikut senang, tapi tetap jaga kebersihan sama ketertiban. Di sini kan juga ada tempat sampah," ucapnya.