NADIKABAR.COM — Kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) saat ini telah digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk mendapatkan saran mengenai penanganan masalah kesehatan mental.
Psikolog klinis dari Therapists of New York, Geoffrey Gold, menyampaikan bahwa pasien bahkan kadang ada yang menggunakan AI sebagai sarana untuk bertukar pikiran di sela sesi terapi.
"Ini menjadi saluran lain bagi mereka untuk sekadar berpikir, 'Coba lihat apa yang akan dikatakan ChatGPT mengenai situasi, perasaan, atau apa pun yang sedang saya alami ini'," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran Real Simple pada Kamis (5/11).
Adia Gooden, psikolog klinis yang berbasis di Chicago, mengatakan bahwa chatbot AI dapat diakses kapan saja dan gratis, memungkinkan orang menggunakannya sewaktu membutuhkan informasi atau mencurahkan isi hati ketika cemas.
"AI bisa sangat berguna untuk menerapkan strategi spesifik yang mendukung kesehatan mental Anda," kata Gooden.
Sebagai contoh, orang bisa meminta alat AI memandu latihan pernapasan selama lima menit saat merasa cemas, atau memintanya menyarankan topik untuk ditulis dalam jurnal guna melatih rasa syukur.
Namun, alat AI punya keterbatasan. Ia tidak dapat meniru hubungan nyata antar-manusia.
"Tidak ada sosok manusia di sisi lain yang memiliki kehidupan emosional untuk diajak berinteraksi," kata Gold.