Selain itu, sebaiknya fokus pada strategi, bukan dukungan emosional. AI bisa berguna untuk mempelajari dan melatih keterampilan tertentu, tapi seharusnya tidak dijadikan sarana utama untuk memproses emosi yang sulit.

Alih-alih mengharapkan kenyamanan, penenangan, atau penyelesaian masalah, Gooden mengatakan, AI bisa dimanfaatkan untuk membantu mengenali pola berpikir katastrofik atau menyusun panduan mengubah cara bicara negatif terhadap diri sendiri.

Pengguna AI juga disarankan memeriksa kembali kebenaran tanggapannya. Faktanya, AI bisa memberikan saran yang tidak akurat atau tidak tepat, dan dia bukan otoritas yang serba tahu mengenai kesehatan mental penggunanya.

Respons AI sebaiknya disikapi dengan tingkat skeptisisme yang wajar. Pengguna disarankan meminta AI mencantumkan sumber rujukan dan memeriksa kembali informasi yang disampaikan melalui sumber terpercaya.

AI mungkin tampak sebagai pilihan yang mudah saat orang merasa kewalahan, ingin meluapkan perasaan, atau sekadar membutuhkan sudut pandang lain mengenai sesuatu yang mengganggu pikiran.

Namun, Gooden menekankan bahwa AI tidak dapat menggantikan terapi. Menciptakan perubahan untuk kesejahteraan diri membutuhkan waktu dan usaha, bukan sekadar jawaban-jawaban yang disusun dengan baik oleh AI.

Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti