AI memang bisa mensimulasikan empati atau memberikan jawaban yang terdengar "tepat", tetapi hanya terapis sungguhan yang mampu membangun koneksi antar-manusia serta menangkap nuansa yang tidak terungkap lewat kata-kata, mulai dari bahasa tubuh hingga nada suara.

"Kalau mereka berkata, 'Oh, saya baik-baik saja', saya bisa mendengarnya dari nada suara mereka. Saya bisa melihatnya dari ekspresi wajah mereka," kata Gooden.

Sebaliknya, alat AI seperti ChatGPT mungkin tidak mampu membedakan orang yang sekadar mengucapkan "Saya baik-baik saja" dengan orang yang memang benar-benar baik-baik saja.

Gooden juga mengatakan, salah satu nilai tambah berkonsultasi dengan terapis adalah mereka tahu bagaimana dan kapan harus menantang pemikiran, keyakinan, gagasan, maupun perilaku yang tidak aman atau tidak sehat dengan cara yang penuh kasih.

Psikolog dan terapis bisa membantu mengurai faktor yang mendasari masalah dan menawarkan cara yang lebih konstruktif untuk menghadapi dan mengatasinya.

Di samping itu, perlu diingat bahwa tenaga profesional kesehatan mental berlisensi punya kewajiban etis dan hukum untuk menjaga kerahasiaan serta privasi informasi dari klien, sedangkan AI tidak.

AI bisa dijadikan sebagai salah satu opsi dukungan kesehatan mental, tetapi pemanfaatan teknologi itu sebaiknya dilakukan secara bijak dan hati-hati agar tidak memunculkan dampak yang tidak diinginkan.

Gold menyarankan penetapan batas waktu penggunaan 45–50 menit dalam setiap sesi agar pembahasan tidak melantur.