NADIKABAR.COM β€” Beberapa situasi seperti menghadapi tenggat waktu pekerjaan hingga membaca banyak berita negatif dapat membuat diri menjadi kelelahan secara pikiran maupun mental.

Hal ini dikarenakan kita keluar dari sebuah zona yang disebut sebagai ruang toleransi (window of tolerance). Mengutip siaran Real Simple pada Jumat (30/10), ruang toleransi awalnya dicetuskan oleh seorang profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran UCLA bernama Dan Siegel, MD.

Ruangan ini berada di antara hiperarousal, sebuah kondisi yang dapat menyebabkan kecemasan, stres, dan panik dan hipoarousal, kondisi yang dapat menjadi depresi dan disosiasi.

Wakil Presiden Perawatan Klinis di Octave Mental Health Golee Abrishami, PhD menjelaskan ruang toleransi menjadi gambaran dari titik ideal dalam hidup untuk dapat berfungsi dengan nyaman.

β€œIni adalah konsep yang membantu anda secara subyektif mengukur bagaimana perasaan anda dan apa yang paling mampu anda tangani," ujarnya.

Tiap individu sebenarnya akan memberikan respons yang berbeda, namun Abrishami menyebut respons yang diberikan cenderung menutup diri, tidak fokus, tidak produktif dan terus-menerus merasa khawatir.

Sedangkan yang lainnya akan mencurahkan diri mereka ke pekerjaan, hubungan, diet, pekerjaan rumah tangga, atau hobi. Mereka mungkin mulai fokus pada kebersihan, pengorganisasian, dan mengembangkan kebutuhan akan keteraturan di ruang mereka.

Menurut dia, ada beberapa cara untuk melindungi kesehatan mental ketika ingin tetap berada di zona nyaman.

Misalnya, menjaga gaya hidup sehat dan menjauhi kebiasaan menggulir layar ponsel secara terus-menerus. Banyak informasi yang diserap dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

β€œOtak manusia tidak dirancang untuk menerima semua berita di dunia 24/7, dan menempatkan diri kita dalam posisi itu dapat membahayakan kesejahteraan kita," kata dia.

Ia melanjutkan kita perlu memperhatikan batas kemampuan tubuh. Jika ada tanda berkepanjangan seperti sesak napas, selalu merasa khawatir atau mengalami ketakutan, maka hal itu perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis atau ahli terkait.

Adanya perubahan hormon baik dalam siklus menstruasi, perimenopause atau menopause juga memiliki andil dari munculnya rasa stres.

Abrishami turut menyarankan untuk segera beristirahat jika kita tidak enak badan.

β€œJika anda terus-menerus dalam mode aktif, Anda akan kelelahan, dan Anda mungkin mengalami burnout. Ketika Anda mengalami burnout, anda tidak memiliki cukup energi untuk menghadapi frustrasi, kemunduran, dan tantangan. Percayalah, jauh lebih mudah untuk mencegah burnout dengan istirahat daripada mengobatinya," kata Abrishami.

Cara lainnya adalah dengan berolahraga, berbaur dengan alam atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih dapat bermanfaat bagi kesehatan mental. Dopamin yang didapat dari berolahraga dan berada di lingkungan yang baik dapat membuat perbedaan bagi seseorang yang merasa cemas atau depresi.

Penerjemah: Hreeloita Dharma Shanti