NADIKABAR.COM — Membatasi waktu penggunaan gawai pada anak kerap menjadi tantangan bagi orang tua. Anak bisa menangis, marah, atau menolak ketika waktu bermain ponsel dihentikan, terutama jika perangkat tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Situasi ini dapat memicu pertengkaran apabila aturan diterapkan secara mendadak tanpa penjelasan.
Padahal, penggunaan gawai tidak selalu berdampak buruk. Perangkat digital dapat membantu anak belajar, mencari informasi, dan berkomunikasi. Hal yang perlu diperhatikan adalah durasi penggunaan, jenis konten yang diakses, serta apakah aktivitas tersebut mengganggu waktu tidur, bermain, belajar, dan interaksi bersama keluarga.
American Academy of Pediatrics (AAP) melalui panduan yang diperbarui pada Januari 2026 menekankan pentingnya menyesuaikan penggunaan media digital dengan usia dan kebutuhan anak. Orang tua juga dianjurkan membuat kesepakatan penggunaan gawai bersama anak, bukan sekadar menetapkan larangan sepihak.
Di Indonesia, penggunaan internet oleh anak juga menjadi perhatian. Kajian UNICEF Indonesia yang diterbitkan pada Februari 2025 menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang diteliti menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan.
Kajian tersebut juga menemukan bahwa 42 persen anak merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman mereka di dunia daring. Temuan ini memperlihatkan pentingnya pendampingan orang tua dalam membangun kebiasaan digital yang sehat dan aman.
1. Buat kesepakatan waktu penggunaan gawai
Mengurangi waktu menatap layar akan lebih mudah jika anak memahami aturan yang berlaku. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai kapan gawai boleh digunakan, berapa lama waktu bermain, serta kapan perangkat harus disimpan.
Kesepakatan sebaiknya disesuaikan dengan usia, jadwal sekolah, kebutuhan belajar, dan kebiasaan keluarga. Anak juga dapat diberi kesempatan memilih waktu bermain yang sesuai selama tidak mengganggu kewajiban dan waktu istirahat.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa aturan dibuat untuk menjaga keseimbangan aktivitas, bukan semata-mata mengambil kesenangannya. AAP merekomendasikan rencana penggunaan media keluarga yang disusun bersama dan dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan anak.
Menghentikan kebiasaan bermain gawai secara mendadak dapat membuat anak kesulitan beradaptasi. Jika anak terbiasa menonton video selama berjam-jam, orang tua dapat mulai mengurangi durasinya sedikit demi sedikit sambil menjelaskan perubahan yang akan diterapkan.
Misalnya, waktu menonton yang biasanya berlangsung selama dua jam dapat dikurangi secara bertahap sesuai usia dan kebutuhan anak. Orang tua juga perlu memastikan pengurangan tersebut tidak mengorbankan aktivitas penting, seperti belajar, tidur, bermain, dan berinteraksi dengan keluarga.
AAP menjelaskan bahwa anak dapat menunjukkan kemarahan atau menangis ketika diminta berhenti menggunakan perangkat digital. Perencanaan sebelumnya, aturan yang konsisten, dan respons orang tua yang tenang dapat membantu mengurangi konflik saat waktu bermain berakhir.