Militer Korea Utara telah memasang ranjau dan membangun rintangan anti-tank di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari upaya untuk menutupnya secara permanen. Hal ini menyusul penetapan Korea Selatan sebagai 'musuh utama' negaranya oleh pemimpin Kim Jong Un pada tahun 2024.
Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kang Shin-chul menilai, ranjau yang bertanggung jawab atas ledakan yang melukai tiga prajurit tersebut diyakini dipasang sebagai bagian dari proyek penguatan perbatasan oleh Pyongyang.
Presiden Korea Selatan yang berhaluan pasifis, Lee Jae Myung, telah mendesak Pyongyang untuk kembali ke meja dialog, meskipun militernya menuntut permintaan maaf sehari sebelumnya.
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara, merespons dengan menyebut Seoul 'sangat hina' seraya membantah bahwa Pyongyang berada di balik ledakan tersebut.
Ia mencemooh upaya terbaru Lee dan menyebutnya sebagai 'puncak lelucon yang patut ditonton semua orang'. Dia juga mengatakan bahwa tuntutan militer agar negaranya meminta maaf adalah hal yang 'sangat konyol.