"Kemudian yang kedua adalah sampah yang jenisnya adalah organik. Jenis organik ini ada dua sebenarnya, sampah organik yang itu banyak dari kafeteria dan sampah organik yang itu nonsampah-sampah eks makanan, yaitu adalah sampah-sampah sapuan, yang biasanya sampah-sampah sapuannya jumlahnya lebih banyak karena kalau Bapak Ibu tadi lewat di UGM jumlah pohonnya mungkin sudah tidak terhitung ya," jelasnya.

Ia mengatakan sampah-sampah dedaunan kemudian dibawa ke tempat pengelolaan sampah di wilayah UGM dan diolah menjadi kompos. Kemudian, untuk sampah residu, UGM melakukan pemilahan dan pengecekan kembali, apakah tercampur dengan sampah organik.

Arief menyampaikan, UGM juga melakukan pendataan dengan menggunakan sistem digital. Sampah dari setiap unit akan diambil secara terjadwal. Selain itu, ukuran timbunan sampah juga dicatat.