NADIKABAR.COM β€” Begitulah Anne Carson menanggapi kabar bahwa dirinya memenangkan Nobel Sastra 2026. Bukan pidato yang penuh rasa haru, bukan pula ungkapan tentang mimpi yang akhirnya tercapai. Dalam wawancara telepon dengan tim Nobel, ia mengaku tak menyangka akan meraih Nobel Sastra.

Pagi itu, telepon berkali-kali berdering di rumah Carson di ReykjavΓ­k, ibu kota Islandia. Ia sedang minum teh, makan biskuit, dan membaca, lalu beranjak menyapu lantai dapur. Karena Carson terus mengabaikan telepon, suaminya, Robert Currie, akhirnya memintanya menelepon balik. Kabar Nobel rupanya harus menunggu sampai urusan dapur selesai.

Foto Carson yang masih memegang sapu, diabadikan suaminya setelah ia mengetahui kabar kemenangan itu, sama menariknya dengan percakapannya bersama tim Nobel. Namun, di balik momen yang mengundang senyum itu, ada penulis yang telah puluhan tahun menekuni bahasa dan cerita untuk mengungkapkan pengalaman manusia yang sulit dijelaskan.

Carson adalah penyair, penerjemah, dan ahli sastra klasik asal Kanada yang pernah menjadi profesor di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Latar akademiknya tidak membuat ia terpaku pada batas antara puisi, esai, dan terjemahan. Semuanya bisa bertemu dalam satu karya. Nobel mengakui keberaniannya mengolah tradisi klasik menjadi bentuk-bentuk baru dalam sastra kontemporer. Dengan kata lain, cerita lama tidak harus disampaikan dengan cara lama.

Salah satu contohnya adalah Nox (2010), yang ia buat setelah kematian kakaknya, Michael. Hubungan mereka telah lama berjarak. Untuk mengenang sosok yang tidak sepenuhnya ia pahami itu, Carson merangkai foto, surat, dan potongan kenangan dengan terjemahannya atas puisi Catullus, penyair Romawi yang juga kehilangan saudara laki-laki.

Hasilnya bukan buku puisi biasa, melainkan semacam album kenangan pada lembaran panjang yang dilipat seperti akordeon dan disimpan dalam sebuah kotak.