Di tangan Carson, duka bisa menjadi buku yang dibuka lipatan demi lipatannya, sementara kabar Nobel disambut dengan "kalian semua gila". Ada ruang untuk kehilangan, ada pula ruang untuk tertawa. Keduanya tidak saling meniadakan.
Sehari setelah kemenangan Carson diumumkan, Navanethem "Navi" Pillay dinyatakan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026. Ia sempat mengira kabar itu lelucon April Mop. Ketika disambut tepuk tangan dalam sebuah pertemuan di NΓΌrnberg, Jerman, ia berkelakar, "If you clap a little bit more, I may share this prize with Trump."
Candaan itu menyentil Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berulang kali menyatakan keinginannya memperoleh Nobel Perdamaian. Trump kemudian memprotes keputusan komite: ia merasa penghargaan itu seharusnya diberikan kepadanya, mengaku tidak pernah mendengar nama Pillay, dan menyebut keputusan tersebut memalukan.
Tentu, Pillay bukan hanya pandai melontarkan lelucon. Perempuan asal Afrika Selatan ini memulai karier hukumnya pada masa apartheid, membela aktivis dan memperjuangkan hak tahanan politik. Ia kemudian menjadi hakim di pengadilan internasional dan menjabat Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.
Salah satu kontribusi pentingnya adalah ikut menyusun putusan perkara Jean-Paul Akayesu pada 1998. Putusan itu mengakui bahwa perkosaan dan kekerasan seksual dapat menjadi tindakan genosida jika dilakukan dengan niat menghancurkan kelompok yang dilindungi. Pengalaman korban yang sebelumnya terabaikan menjadi dasar untuk meminta pertanggungjawaban pelaku.