NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) memperkuat pengelolaan dan restorasi kawasan gambut sebagai upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berulang setiap tahun.

Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan penguatan pengelolaan gambut menjadi perhatian serius karena kawasan tersebut kerap menjadi sumber awal kebakaran, terutama saat kondisi lahan mengering pada musim kemarau.

“Kenapa kami menginisiasi untuk rakornas itu dilaksanakan di sini? Karena kami ingin lebih serius dalam menyikapi masalah karhutla yang kita ketahui selalu sumber awalnya di wilayah gambut,” kata Gubernur Herman Deru saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional di Palembang, Kamis.

Ia menjelaskan Sumsel memiliki sekitar 10 persen dari total luas gambut nasional, dengan kawasan hidrologi gambut mencapai dua juta hektare dan areal terdampak seluas 1,27 juta hektare.

Pelaksanaan rakornas tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antar-lembaga, sekaligus mengoptimalkan kembali kelembagaan pengelolaan gambut di daerah.

Upaya pengelolaan gambut di Sumsel sebelumnya terkendala tidak aktifnya lembaga induk, sehingga dukungan pendanaan untuk pelaksanaan program tidak dapat berjalan optimal.

Pencegahan karhutla harus dilakukan dengan mengidentifikasi akar persoalan, mulai dari kebiasaan masyarakat membuka lahan hingga kemungkinan pelanggaran oleh pihak yang sengaja membakar lahan.

“Apakah dari kebiasaan masyarakat? Apakah dari kerusakan yang sudah terjadi? Ataukah dari pelaku pembukaan lahan dengan cara membakar, baik kecil maupun besar, tapi kok ini berulang. Nah, inilah yang kita kolaborasikan dalam bentuk rakornas ini,” katanya.

Selain memperkuat koordinasi, Pemprov Sumsel juga mendorong pengelolaan tata air untuk menjaga kelembapan gambut agar tidak mudah terbakar. Salah satu langkah yang ditekankan ialah pembangunan sekat kanal guna menahan air tetap berada di kawasan gambut.

“Gambut itu tidak boleh kering. Permukaannya tidak boleh kurang dari 0,4 meter. Terus bagaimana airnya tidak terbuang. Ini disebut sekat kanal,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, peserta rakornas dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) untuk melihat langsung pengelolaan dan perlindungan kawasan gambut.

Selain itu kondisi karhutla di sejumlah wilayah Sumsel mulai membaik. Kabupaten Banyuasin, menurut dia, tidak lagi memiliki titik panas berdasarkan pemantauan yang dilakukannya, sedangkan kondisi di OKI juga berangsur membaik.

Meski demikian ia mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tetap konsisten menjalankan upaya pencegahan meskipun musim hujan telah tiba.

“Ketika sudah hujan, lupa bicara tentang penanganan pencegahan karhutla ini. Makanya saya minta teman-teman wartawan untuk terus mengawal ini, agar semua tataran pemerintahan dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan nasional, selalu ingat,” ujarnya.