Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang munculnya modus kejahatan yang semakin kompleks, seperti kejahatan siber, pemanipulasian data, hingga penipuan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Kondisi tersebut menuntut auditor forensik untuk terus meningkatkan kapasitas agar mampu mengantisipasi berbagai bentuk kecurangan, termasuk yang terjadi di lingkungan pemerintahan daerah.

"Bapak-Ibu sekalian, modus fraud dan kecurangan dalam keuangan daerah saat ini telah bergeser ke ranah digital. Nah, untuk itu sekali lagi, pertemuan ini sangat-sangat memberikan inspirasi kepada Kemendagri di bawah inspektorat untuk terus meningkatkan kapasitas, sehingga pencegahan bisa lebih dikedepankan," ujarnya.

Wiyagus juga menekankan pentingnya kolaborasi antara auditor forensik dan pemerintah dalam mendukung reformasi serta pemberantasan korupsi. Peran tersebut sejalan dengan Asta Cita ketujuh Presiden, yang mencakup penguatan reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahan dan pemberantasan korupsi dan narkoba.

"Kami juga mengajak kepada para auditor forensik yang dinaungi oleh asosiasi untuk bekerja sama dengan pemerintah yang melakukan pengawasan, karena program [Asta Cita] Bapak Presiden ini masih akan terus berjalan," ungkapnya.