NADIKABAR.COM — Aplikasi kencan daring Omi bersama Savy Amira Women’s Crisis Center, Wiloka Society Peer Group Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), dan Hope Helps Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar edukasi keselamatan digital bagi mahasiswa di Surabaya.

Kegiatan bertajuk “Memelihara Ruang Aman Perempuan di Ranah Digital: Mengenali dan Melawan Love Scam Berbasis AI di Dunia Dating Online” tersebut berlangsung di Ruang Serbaguna Fakultas Psikologi Ubaya, Minggu (20/9), dan diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri atas mahasiswa, komunitas perempuan, dan akademisi.

Talkshow interaktif itu membahas perkembangan modus penipuan asmara (love scam) serta kekerasan berbasis gender online (KBGO), termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), generative AI, dan deepfake untuk membangun identitas palsu.

Survei Populix pada 2024 mencatat sebanyak 63 persen responden di Indonesia pernah menggunakan aplikasi kencan daring. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai keamanan digital menjadi bagian penting dalam aktivitas membangun relasi melalui platform daring.

Sementara itu, Komnas Perempuan mencatat 1.846 kasus KBGO pada 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) juga mencatat 3.494 laporan terkait love scam hingga akhir 2025, dengan total kerugian mencapai Rp49,198 miliar.

Dalam kegiatan tersebut, Rumaysha Gikha Nisrina, S.Sos., M.Si. dari Satgas PPKS ITS menjelaskan bahwa perkembangan AI dapat dimanfaatkan pelaku untuk membuat identitas palsu yang semakin realistis.

Menurut dia, teknologi tersebut memungkinkan pelaku membangun kepercayaan sekaligus memanipulasi korban secara emosional.

Ia mengingatkan generasi muda untuk mengenali sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, antara lain akun yang enggan melakukan verifikasi melalui video serta ajakan untuk segera berpindah dari platform kencan ke aplikasi percakapan pribadi.

Product Marketing Manager Omi, Lukas, mengatakan keamanan pengguna menjadi salah satu perhatian dalam membangun pengalaman kencan daring.

“Bagi Omi, keamanan pengguna sangat penting untuk menciptakan pengalaman online dating yang nyaman. Namun, teknologi saja tidak cukup. Pengguna juga perlu memahami risikonya dan menjaga keamanan diri saat berinteraksi dengan orang baru di internet,” ujarnya.

Ia menjelaskan Omi menggunakan sistem AI untuk mendeteksi dan memblokir gambar profil yang dibuat menggunakan AI dengan tingkat pencegahan yang diklaim mencapai 95 persen.

Untuk indikasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, Omi juga menerapkan proses peninjauan secara manual oleh tim moderasi.

Omi menyebut Fraud and Scam Rate pada platform tersebut secara konsisten berada di bawah 0,15 persen. Perusahaan juga menyatakan lebih dari 681 ribu orang di Indonesia telah menemukan pasangan melalui platform tersebut.

Dari sisi penegakan hukum, Iptu Wiwit Widayanto, S.H. dari Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Timur, menyampaikan pengalaman penanganan kasus love scam di wilayah Jawa Timur.

Ia menyebut kerugian tertinggi dalam kasus love scam yang pernah ditangani Polda Jawa Timur mencapai sekitar Rp1,1 miliar dengan jumlah korban lebih dari 53 orang.

Wiwit juga menjelaskan mekanisme pelaporan apabila masyarakat menjadi korban penipuan daring dan mengimbau korban untuk tidak ragu mencari perlindungan serta menempuh jalur hukum.

Ia turut mengapresiasi kegiatan edukasi yang dinilai dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai modus love scam.

Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Ubaya sekaligus Co-founder Savy Amira, Dr. N. K. Endah Triwijati, M.A., menjelaskan bahwa pelaku dapat menggunakan berbagai pola pendekatan untuk membangun kedekatan dan memengaruhi korban secara emosional.

Ia menekankan pentingnya menjaga self-boundaries dalam membangun relasi di ruang digital. Selain itu, stigma terhadap korban perlu dikurangi agar mereka tidak takut berbicara dan melaporkan pengalaman yang dialami.

Dalam sesi edukasi keselamatan digital, Pakar Keamanan Omi, Luna, bersama Ketua Savy Amira, Siti Mazdafiah, membagikan sejumlah langkah yang dapat diterapkan masyarakat ketika berinteraksi melalui platform kencan daring.

Pengguna disarankan mengutamakan interaksi dengan akun yang telah terverifikasi sebagai langkah awal untuk mengenali keaslian akun, serta tetap menggunakan fitur komunikasi resmi di dalam aplikasi sebelum membagikan kontak pribadi atau beralih ke saluran lain. Selain itu, hubungan emosional perlu dipisahkan dari urusan finansial dengan mewaspadai permintaan uang, tawaran investasi, maupun permintaan data pribadi sensitif. Jika memutuskan untuk bertemu secara langsung, pengguna sebaiknya memilih lokasi publik yang ramai dan memberi tahu kerabat mengenai rencana pertemuan untuk menjaga keamanan.

Kegiatan tersebut ditutup dengan komitmen para pihak untuk memperkuat kolaborasi antara aparat penegak hukum, lembaga pengada layanan, akademisi, dan penyedia platform dalam meningkatkan keamanan interaksi digital.

Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk membangun ruang digital yang lebih aman sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali dan merespons berbagai modus penipuan berbasis teknologi.