NADIKABAR.COM — Founder dan CEO Whitesky Group, Denon Prawiraatmadja memulai rangkaian keliling Asia untuk memperkuat realisasi peta jalan pengembangan Advanced Air Mobility (AAM) Indonesia dengan skala investasi dan pengembangan yang diproyeksikan tidak kurang dari Rp21 triliun dalam sepuluh tahun.
Pada Senin (21/9), Denon melakukan kunjungan ke fasilitas AutoFlight di Kunshan, China, untuk melihat perkembangan teknologi, demonstrasi penerbangan, simulator, serta melanjutkan pembicaraan strategis dengan jajaran pimpinan perusahaan.
"China menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian tersebut,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda yang lebih luas setelah pihaknya membawa visi ekosistem eVTOL Indonesia ke Hong Kong. Dalam satu tahun ke depan, kegiatan serupa akan terus diperluas melalui mitra di China, Hong Kong, Jepang dan Korea.
Namun dia mengatakan perjalanan tersebut tidak diarahkan sekadar untuk memperbesar jumlah aircraft yang masuk ke Indonesia.
“Kami ingin setiap kerja sama internasional menghasilkan nilai ekonomis yang nyata bagi Indonesia. Bukan hanya aircraft, tetapi investasi, teknologi, kemampuan industri dan kesempatan kerja baru,” katanya.
Whitesky menargetkan pengembangan hingga 200 eVTOL dalam satu dekade, sebuah skala yang menurut perusahaan akan membutuhkan ekosistem jauh lebih besar dibanding pengadaan aircraft semata.
Investasi akan berkaitan dengan kebutuhan operasi, infrastruktur, perawatan, charging, teknologi, pelatihan serta pengembangan human capital.
Karena itu, dia ingin keliling Asia tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perusahaannya dengan bukan hanya produsen peralatan asli (OEM), tetapi juga financial institutions, technology providers, infrastructure partners hingga battery and energy companies.
Bagi Denon, angka Rp 21 triliun tidak boleh berhenti sebagai nilai aset.
Skala pengembangan tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi baru di sektor penerbangan serta membuka rantai bisnis pendukung yang sebelumnya belum berkembang di Indonesia.
Pihaknya memproyeksikan pembangunan ekosistem 200 eVTOL dapat menciptakan dan mendukung tidak kurang dari 1.000 lapangan pekerjaan baru. Kebutuhannya akan berkembang mulai dari pilot, engineer dan technician hingga maintenance, vertiport operation, charging infrastructure, safety, training dan digital aviation.
"Kalau investasi sebesar ini hanya menghasilkan penambahan armada, berarti peluangnya belum kita maksimalkan. Yang kami kejar adalah bagaimana investasi tersebut menciptakan pekerjaan, kemampuan dan industri baru," katanya.