NADIKABAR.COM — Nusa Tenggara Timur (NTT) porak poranda usai diguncang gempa Magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu. Kini, kepulauan di Indonesia Timur itu sedang memulihkan diri pascaguncangan lindu yang begitu merusak.
Tak hanya bangunan yang luluh lantak, berdasarkan data BNPB sedikitnya 136 orang dinyatakan tewas, 1.762 orang luka-luka, sementara 60.572 warga terpaksa mengungsi. BNPB juga mencatat 98.986 rumah, 712 fasilitas pendidikan, 620 tempat ibadah, serta 157 fasilitas kesehatan, mengalami kerusakan.
Tenaga kesehatan datang silih berganti, membantu warga memulihkan luka. Salah satu yang terlibat ialah Agus Nurjaman, seorang perawat asal RSUD Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
"Ini adalah panggilan kemanusiaan. Kita sebagai makhluk sosial sudah selayaknya membantu saudara kita yang terdampak bencana. Menjadi relawan kesehatan merupakan wujud pengabdian saya," ujar Agus kepada NadiKabar, Kamis (10/9/2026).
Agus bersama 260 rekan seperjuangannya akan bertugas di NTT selama dua pekan, dimulai pada 7 September dan berakhir pada 20 September mendatang. Mereka merupakan bagian dari Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dikerahkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak bencana.
"Tugas kami untuk membantu penanganan kesehatan para penyintas, khususnya di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur," kata Agus.
Agus sendiri beberapa kali terjun dalam penanganan berbagai situasi kebencanaan, di antaranya dalam penanganan bencana gempa Cianjur, longsor Pasirlangu Bandung Barat, hingga banjir bandang di Aceh. Kini, pengalamannya diuji demi bantu pulihkan luka Indonesia Timur.
Perjalanan menuju lokasi tugas juga menjadi tantangan tersendiri. Agus bersama para relawan kesehatan lainnya harus menempuh perjalanan melalui Bandara Juanda, Surabaya, menyusul adanya kendala operasional penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, dilanjutkan dengan 15 jam perjalanan darat dari Bandara Komodo Labuan Bajo sampe ke Puskesmas Mombok Manggarai Timur NTT.
"Perjalanan kali ini memang tidak mudah, tetapi semangat untuk membantu masyarakat tidak boleh surut," kata Agus.
Dalam segala keterbatasan disertai alam yang belum berhenti mengguncang tanah NTT, Agus dan relawan kesehatan lainnya berpacu dengan waktu memulihkan luka fisik dan psikis pars penyintas bencana. Trauma tak bisa pulih begitu saja.
"Kendala kita di sini itu jalannya rusak, terus krisis air bersih. Sementara gempa belum berhenti, makanya warga di sini kebanyakan sangat trauma berdampak ke kondisi kesehatan mereka," kata Agus.
"Rata-rata mereka mengeluhkan hipertensi karena psikis yang terganggu. Makanya di sini, kami selain melakukan penanganan medis juga ikut membantu trauma healing," ujar Agus.