"Kami tidak tahu dampak apa yang akan ditimbulkan oleh semua ini terhadap kesehatan mentalnya," kata Spivey seraya menyoroti bagaimana kliennya merasa 'marah dan bingung' akibat pengalaman pahit tersebut.
Dia menyebut kondisi itu mengejutkan semua orang. Dia menyebut kata-kata pertama yang diucapkan Pike adalah 'Di mana saya?' dan 'Siapa Anda?'
"Saya tidak memiliki penjelasan atas apa yang terjadi," kata Spivey.
Dia menyebut Pike juga mengalami penggumpalan darah di salah satu lengannya serta pneumonia, dan tidak mampu menelan. Setelah dipastikan bahwa Pike tidak akan meninggal dunia usai pemberian dua dosis obat pentobarbital, dia dilarikan ke rumah sakit.
Dia sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari sementara tim medis berupaya membersihkan tubuhnya dari zat kimia yang telah disuntikkan tersebut. Para pengacara Pike telah menghadap hakim dalam sebuah sidang darurat, di mana tim hukum Pike meminta agar seluruh bukti terkait pelaksanaan eksekusi yang gagal itu diamankan. Bukti-bukti tersebut dapat menjadi landasan bagi gugatan hukum terhadap negara bagian di kemudian hari.