"Sepanjang jalan, si penjemput tidak memberitahu alasannya apa, sampai tiba di suatu tempat, di satu rumah, yang kemudian diakui itu adalah salah satu rumah kenalan pondok, jauh dari pondok, di pinggir sawah. Mereka (ortu) tidak mengetahui itu di mana," ujar Gusti.

"Sampai di sana, orang tua korban kaget karena di sana sudah ramai, sudah ada perwakilan pondok, kemudian sudah disiapkan juga beberapa makanan, kemudian buah-buahan, dan lain sebagainya," imbuhnya.

Kondisi di tempat itu membuat orang tua korban semakin bertanya-tanya. Setelah masuk ke rumah itu, tiba-tiba salah satu perwakilan ponpes seperti membuka acara dan tiba-tiba menanyai orang tua korban.

"Kemudian akhirnya ada salah satu pimpinan tertinggi atau katakanlah pejabat tinggi ponpes itu mengatakan, 'Semua dosa itu diampuni kecuali syirik atau musyrik', begitu kata pihak pondok pesantren berdasarkan pengakuan dari orang tua korban," ujar Gusti.

"Sampai akhirnya diberitahu bahwa FN itu hamil. Saya tegaskan lagi ya, cuma diberitahu FN itu hamil, tidak disampaikan penyebab hamilnya itu apa. Sehingga orang tuanya kaget betul, syk," ungkapnya.

Sesaat kemudian, FN keluar dari belakang rumah itu untuk menemui orang tuanya. Setelahnya, orang tua korban seperti disudutkan dan didesak oleh perkataan pihak ponpes.