Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Embrik membangun sendiri sebuah balong khusus pengembangbiakan ikan dewa di kaki Gunung Ciremai. Meski balong tersebut dialiri mata air alami dari pegunungan, hal itu dirasa belum cukup. Diperlukan perawatan khusus agar kondisi balong tetap terjaga.
Menurut Embrik, jika kondisi tersebut tidak diperhatikan, ikan menjadi sulit berkembang biak bahkan mati seperti yang ia alami beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa bisa mati? Ikan dewa itu mudah stres. Keduanya, kalau lumpurnya terlalu banyak, itu kan menimbulkan amoniak. Amoniak diisap sama ikan, nah jadinya mabok ikannya. Air jangan banyak lumpur, jadi sering-sering dikuras. Ini Ikan nggak tahan kalau bau. Makanya harus air pegunungan. Ikan mati pernah. Ada mungkin 20 ekor mati. Tapi itu bukan mati kena penyakit, kesalahan saya sendiri kurang air gitu. Kalau airnya nggak ngalir sudah, cepat mati," tutur Embrik.
Selain kerumitan budi daya, pertumbuhan ikan dewa juga tergolong lambat. Menurutnya, diperlukan waktu hingga 5 tahun untuk mencapai bobot 1 kilogram. Selama masa pertumbuhan, ikan dewa harus diberi pakan berupa cacing rambut hingga tepung udang yang harganya cukup mahal.
Menurut Embrik, sulitnya budi daya serta biaya pakan yang tinggi membuat harga ikan dewa melonjak di pasaran. Embrik mengaku sering mendapatkan banyak permintaan, namun ia enggan menjual jika tawaran harganya terlalu rendah. Alasannya, harga tersebut tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.