"Minimal Rp 350 ribu. Kalau udah sekilo ke atas hampir 1 juta lah. Penampung ada dari Sumedang, menanyakan ke saya. Kalau Rp 250 ribu saya beli semua. Belum untung. Soalnya kan lambat, lambat, susah," tutur Embrik.

Berkat konsistensinya, kini budi daya ikan dewa milik Embrik semakin berkembang. Setidaknya, Embrik kini memiliki ratusan ekor ikan dewa yang tersebar di dua tempat; di balong Cibuluh sebagai daya tarik wisatawan, dan di kolam pribadinya.

"Makanya dulu katanya enggak bisa dikembangbiakkan, nah ternyata setelah saya pelajari, itu bisa dikembangbiakkan tapi harus ada partisipasi dari manusia. Ada berapa, kalau di sini dulu ada 300-an ya. Kalau di rumah itu sekitar 100 ekor lah. Kalau yang sebesar-besar ini hasil budidaya ini ada ya 300 ekor ada," ujar Embrik.

Sebagai seorang pembudidaya, ia berharap ke depan ada langkah konkret dari pemerintah daerah, terutama dalam membuka akses pasar dan memberikan dukungan permodalan bagi masyarakat yang ingin mengembangbiakkan ikan dewa.

"Saya kolamnya, fasilitas ada. Sumber daya alamnya bagus, kolam pembesarannya ada, kolam untuk pengembangbiakannya ada, airnya cukup, SDM-nya ada. Cuma yang kurang satu: pemasaran dengan modal. Karena tadi, biaya mahal, proses sulit, jadi perlu pendampingan," pungkas Embrik.