Selain itu, juga ada contingency fund per 1 tahun. Bantuan tersebut bisa dipakai untuk ikut workshop, conference, atau seminar dalam negeri.
"Nah, kalau misalnya kita mau ikut seminar di luar negeri atau conference di luar negeri, ada yang namanya RSTA, Research Scholar Travel Award. Nah, itu jumlahnya kalau nggak salah 2 lakh atau sekitar Rp 40 juta, gitu," lanjut Hilya, yang kini merupakan ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India.
Mahasiswa juga mendapatkan layanan medis gratis di IIT Hospital. Syaratnya cuma membawa buku ke rumah sakit, lalu akan mendapatkan obat secara gratis.
Sementara untuk diagnosis, misalnya tes darah, juga gratis. Hilya menyebut hanya beberapa tes saja yang perlu bayar sendiri.
"Terus kalau misalnya kita pun harus ada imaging kayak USG atau X-Ray atau lain-lainnya, itu juga diskon 50% dengan kartu kita. Gitu," tuturnya.
Bagi Hilya, yang terpenting adalah dirinya bisa fokus untuk belajar, riset, dan mengajar. Sebab, beasiswa IPFP tidak mengharuskan awardee untuk mengabdi.
"Terus habis itu di sini beasiswanya itu nggak mengharuskan mengabdi segala macam. Terus, jumlah support-nya cukup (banyak) dan ada hostel juga di sini. Jadi, sebagai mahasiswa, bisa fokus (tanpa perlu memikirkan tempat tinggal)," ujarnya.