"Kalau mau belajar atau studi, itu bagus banget di India. Kenapa? Dengan adanya sistem hostel ini, mahasiswa bisa fokus belajar. Makanan juga udah disediain dari sini," katanya lagi.

Menurut Hilya, salah satu tantangan yang ditemui sebagai mahasiswa internasional di luar negeri adalah memasak. Terlebih bagi mahasiswa S3 yang sibuk dengan laboratorium dan riset.

"Nah, di sini kalau tinggal di hostel itu semua udah dijamin ya, udah dimasakin, terus ada tempat untuk washing machine juga ya untuk pakai bersama. Terus juga fasilitas di sini bagus ya, ada gym, ada sports center-nya juga ya, ada Olympic-size swimming pool, segala macam, itu bagus," papar Hilya.

Selain fokus studi, Hilya juga menjadi seorang asisten dosen untuk mahasiswa S2 di Biochemical Engineering and Biotechnology. Ia melihat bahwa perbedaan paling mencolok mahasiswa Indonesia dan luar negeri adalah cara belajarnya.

"Di sini tuh mereka belajarnya serius banget dan militan ya. Dan mereka tuh anak-anaknya benar-benar kayak kompetitif banget di IITD ini ya. Nggak tahu kalau di kampus lain, tapi di IITD ini sangat-sangat kompetitif gitu," katanya.

Kondisi ini menurutnya akan lebih terlihat saat musim ujian tiba. Biasanya kelas diatur untuk belajar khusus dan perpustakaan juga akan buka 24 jam.

"Di sini kalau lagi ujian, library ini buka 24 jam. Bahkan ada setup kelas lain ya, ruang studi selama ujian. Jadi kayak untuk tempat belajar mahasiswa gitu. Memang kalau soal belajar mereka memang ini, apa sih, kayak militan gitu lah," tutur Hilya.