Selain membawa barang berat, ia juga beberapa kali harus ganti rugi lantaran barang yang diantar rusak.

"Pernah kecelakaan juga di jalan dan ganti rugi barang. Kalau barang terjatuh ya itu kan kesalahan kita juga. Saya pegang HP sambil lihat maps itu kan. Jadi, tidak tahu tiba-tiba jatuh dari gantungan itu. Sampai pecah. Waktu sampai ke customer saya bilang, "Ya udah lah kita ganti ya. Ganti, namanya kesalahan kita kan," ungkapnya.

Iqbal mengatakan, penghasilan yang ia dapat berkisar Rp 50 ribu per hari. Namun, kadang-kadang ia bisa tidak mendapatkan orderan dalam satu hari dan hanya bisa untuk membeli bahan bakar sepeda motor.

Iqbal mengaku tidak mengetahui tentang status desilnya. Menurutnya, kehidupan sehari-harinya tidak masuk ke dalam kelas menengah atau atas (desil 6-10).

"Nah, itu lah yang tidak tahu. Saya tidak tahu awalnya. Pas dikasih tahu, saya kaget desil tinggi. Wih, ini desilnya desil orang kaya, gitu. Makanya tidak pernah dapat (sembako) gitu kan. Pantaslah," katanya.

Karena kondisi kakinya, Iqbal mengaku ingin mencari nafkah dengan berjualan. Namun, lantaran belum ada modal, ia masih memanfaatkan sepeda motor adiknya untuk menjadi kurir online.

"Ya harapan saya kalau bisa ada modal. Saya ingin jualan aja gitu. Buka-buka yang lain gitu kan, coba buka usaha. Karena narik kayak gini berbahaya juga di jalan. Saya pengen kayak jualan sembako gitu lah. Mana tahu terbuka. Di sini lah saya cari jualan gitu. Entah jualan apa aja lah, yang penting saya jualan. Karena kalau kurir gini saya sering jatuh," tutupnya.