Karena itu, Nabil mulai belajar mengatur waktu sejak awal menjalani perkuliahan. Ia berusaha menempatkan latihan sepak bola pada sore hari agar tidak banyak berbenturan dengan jadwal kuliah.

Selain mengatur jadwal latihan dan kuliah, Nabil juga membuat waktu khusus untuk menyelesaikan tugas dan belajar.

"Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu," ujarnya.

Bagi Nabil, pendidikan kedokteran memang menjadi salah satu prioritas. Namun, sepak bola tetap memiliki tempat penting dalam kehidupannya. Untuk saat ini, ia masih ingin menjalani kedua bidang tersebut secara bersamaan.

Nabil melihat pendidikan kedokteran dan karier sepak bola sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan. Selama aktivitasnya sebagai atlet tidak mengganggu perkuliahan, ia ingin tetap mempertahankan keduanya.

Meski begitu, Nabil menyadari bahwa karier sebagai atlet memiliki batas waktu. Karena itu, pendidikan kedokteran dipandangnya sebagai bekal untuk mempersiapkan masa depan setelah karier sepak bolanya berakhir.

"Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang," katanya.