Garin, yang sempat menangis karena kekerasan brutal dalam film terbarunya relevan dengan apa yang masih terjadi di Indonesia dan dunia, dengan senang hati menerima tawaran Nicholas. Garin menulis naskah film ini bersama Dirmawan Hatta.

"Ya, karena terlalu banyak kekerasan dan ketidakberdayaan di dunia ini. Dan ketika Nicho menawarkan ini, menurut saya harus dibuat film ini," tutur Garin.

"Merah Sebelum Fajar" sekaligus menjadi cara Garin untuk menyuarakan isi hatinya, ajakan menghentikan kekerasan dan peperangan. Ia juga ingin memberikan pandangan lain dari masa transisi kemerdekaan yang tidak banyak diungkapkan di buku sejarah, bahkan bisa jadi tak banyak anak muda di Tanah Air yang tahu betul apa yang terjadi.

"Dan saatnya memang harus dibuka, untuk direnungi."

"Merah Sebelum Fajar" mengisahkan Frans, seorang ahli tambang keturunan Belanda-Indonesia, yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke ibu kota sementara di Yogyakarta untuk memberikan dokumen penting demi membantu pemerintahan baru mengelola sumber daya mineral yang melimpah di Tanah Air. Frans tidak pergi sendirian.

Ia diantar Qasim, keturunan India (Bront Palarae) yang gemar mengutip kata-kata sastrawan Rabindranath Tagore, calon perawat keturunan Tionghoa (Laura Basuki), penyanyi keliling (Tissa Biani) serta Arya, teknisi radio tuna netra (Nagra Pakusadewo) yang percaya bahwa nasib rakyat bergantung kepada kemampuan mereka untuk saling berkomunikasi di seluruh penjuru negeri.