"Tadi saya beli kupat tahu sama kopi khas Temanggung. Harganya Rp 15 ribu, kopinya Rp 35 ribu. Saya beli karena saya juga orang Temanggung, kebetulan sudah lama sekali tidak makan kupat tahu," ucapnya.

Sebelum ini pun Syahrul mengaku pernah mencari kupat tahu khas Temanggung di Semarang, tetapi kebetulan tempat yang ditujunya saat itu sudah tutup permanen, sehingga ia batal membelinya.

"Makanya ini bagus, jadi nostalgia karena kan saya sudah lama nggak balik Temanggung," tuturnya.

Tak hanya jadi ajang nostalgia, bazar UMKM itu juga jadi ajang perantau luar Jateng untuk mencoba makanan khas Jateng. Salah satu pengunjung asal Bali, Made Dinda (25), mengaku sangat antusias mendatangi bazar tersebut.

Pekerja media yang sudah mencari nafkah selama tiga tahun di Semarang, itu mengaku langsung mencari mendoan khas Banyumas begitu mengetahui adanya bazar di halaman Gubernuran.

"Biasanya di Bali ada yang jual mendoan, cuma nggak autentik, malah jatuhnya kayak tempe tepung goreng. Karena kebetulan aku kerja di Semarang dan tahu 35 kabupaten/kota buka stand makanan, ada stand Banyumas juga, aku langsung beli mendoan," ungkapnya.

Dinda mengaku senang karena bazar tersebut membuatnya bisa mencicipi kuliner dari berbagai daerah di Jateng tanpa harus bepergian jauh.

"Antar-kabupaten kota di Jawa Tengah kan cukup jauh. Ini kesempatan aku bisa nyobain makanan khas daerah Jawa Tengah yang jauh dari Semarang, kayak Banyumas," jelasnya.

Salah satu pelaku UMKM asal Batang yang ikut dalam bazar tersebut, Erfiga (40), menjual lontong lemprak khas Batang. Ia membawa sekitar 75 porsi makanan khas tersebut.

"Lontong lemprak itu sebetulnya hampir sama seperti lontong opor. Isinya lontong, opor ayam kampung, tahu kulit, kerupuk, plus khasnya sambal merah khas," jelas Erfiga.

Menurutnya, kegiatan seperti ini penting digelar. Karena selain bisa membantu UMKM, juga bisa memperkenalkan makanan khas daerah sekaligus menjadi kesempatan bagi para perantau untuk mengobati kerinduan terhadap kuliner kampung halaman.