Dengan dukungan keluarga, perjalanan Retno tak lantas mulus. Alumnus SMAN 3 Semarang ini harus berusaha agar dapat diterima di perguruan tinggi negeri agar biaya kuliahnya masih dapat ditanggung orang tua.

"Saya anaknya orang yang bukan kaya sama sekali, hidup saya sangat-sangat sederhana. Jadi keluarga sederhana dari Semarang mau jadi diplomat, itu gap-nya itu besar sekali. Jadi saya harus merencanakan dengan baik," tuturnya.

Namun, lantaran PTN di kotanya seperti Universitas Diponegoro (Undip) saat itu belum memiliki jurusan hubungan internasional, pilihannya berlabuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

"Harus masuk ke universitas negeri, karena kalau nggak, ibu saya nggak bisa bayar. Jadi saya ke UGM," sambungnya.

Semasa kuliah di UGM pada 1981-1985, ia berupaya tekun belajar dan menjaga prestasi akademik. Sementara itu, hiburannya di akhir pekan yakni naik gunung dan ke perpustakaan. Hobi ini mempertemukannya dengan juru kunci Gunung Merapi, almarhum Mbah Maridjan, jika sedang naik gunung yang ada di tim redaksi DIY dan Jateng ini.

"Weekend saya ke perpustakaan atau weekend saya ada di gunung. Dan saya ke gunung itu bisa dikatakan hampir setiap minggu. Every weekend, walaupun tidak harus ke puncak ya, tapi pokoknya saya sampai tempat--kalau ingat almarhum Mbah Maridjan, Mbah Maridjan itu adalah teman saya," kenangnya.

Retno kemudian mengikuti seleksi masuk Kemlu. Ia bercerita, saat itu Kemlu mencari mahasiswa dengan indeks prestasi (IP) tinggi dan memenuhi persyaratan lainnya untuk menjalani seleksi.

"Sebelum selesai, dicari anak-anak yang dinilai IP-nya tinggi dan sebagainya, terus tesnya itu berlapis sekali, sampai akhirnya--sekali lagi rezeki saya--kemudian saya diterima," tuturnya.

Sejak masuk Kemlu pada 1986 dan menjadi PNS, ia tim redaksi lain bertugas di Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia di Canberra pada 1990-1994 dan Den Haag pada 1997-1981.